Eks PM Inggris Minta Khadafi Mengungsi Saat Kerusuhan Libya Tahun 2011

Eks PM Inggris Minta Khadafi Mengungsi Saat Kerusuhan Libya Tahun 2011

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 08 Jan 2016 19:42 WIB
Tony Blair dan mendiang Muammar Khadafi (AFP Photo/Leon Neal)
London - Mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, ternyata sempat meminta mendiang Muammar Khadafi untuk mengungsi ketika unjuk rasa besar-besaran di Libya muncul tahun 2011. Hal ini terungkap dalam transkrip percakapan telepon antara keduanya.

Seperti dilansir AFP, Jumat (8/1/2016), transkrip percakapan ini dirilis oleh Komisi Urusan Luar Negeri pada parlemen Inggris. Ini dimaksudkan untuk mengkaji intervensi negara-negara Barat dalam perang sipil di Libya.

Dalam transkrip itu, Blair mendesak Khadafi untuk menghentikan kekerasan dan memulai perubahan di negaranya. Blair yang aktif menjabat PM Inggris pada tahun 1997-2007 ini, meminta Khadafi untuk menyelesaikan konflik secara damai dan tetap menjalin komunikasi dengannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Cara untuk menangani ini adalah pemimpin berbicara dan memperjelas bahwa dia ingin hasil yang damai. Penggunaan pesawat untuk menyerang kota-kota dan penggunaan kekerasan terhadap warga sipil -- ini harus dihentikan," imbau Blair terhadap Khadafi.

Meskipun tidak lagi menjabat, Blair tetap memiliki pengaruh terhadap Khadafi. Saat itu, Khadafi bersikeras bahwa Libya diserang oleh sel-sel rahasia jaringan Al-Qaeda yang ingin menguasai Afrika dan menyerang Eropa.

"Jika Anda memiliki tempat aman untuk mengungsi, Anda harus pergi ke sana karena ini tidak akan berakhir dengan damai," ucap Blair mengingatkan diktator Libya itu seperti tertulis dalam transkrip.

Transkrip ini menyingkap apa yang ada dalam pikiran Khadafi ketika kerusuhan meluas di negaranya. Ketua Komisi Urusan Luar Negeri pada parlemen Inggris, Crispin Blunt, menyebut transkrip ini membantu memahami apakah peringatan terhadap Khadafi jelas diabaikan dan apakah para pembuat kebijakan negara-negara Barat kurang perspektif soal risiko intervensi.

Komisi meminta keterangan Blair pada Desember 2015, soal hubungannya dengan Khadafi. Kerusuhan Libya melengserkan rezim Khadafi pada pertengahan Februari 2011 lalu. Tercatat Blair dua kali menghubungi Khadafi, yakni pada 25 Februari 2011 dan yang kedua setelah Blair melaporkan hal ini ke tokoh-tokoh Amerika Serikat dan Uni Eropa. Khadafi melarikan diri dari Tripoli pada Agustus 2011 dan akhirnya tewas pada 25 Oktober tahun yang sama.

(nvc/fdn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Hide Ads