Seperti dilansir AFP, Jumat (8/1/2016), transkrip percakapan ini dirilis oleh Komisi Urusan Luar Negeri pada parlemen Inggris. Ini dimaksudkan untuk mengkaji intervensi negara-negara Barat dalam perang sipil di Libya.
Dalam transkrip itu, Blair mendesak Khadafi untuk menghentikan kekerasan dan memulai perubahan di negaranya. Blair yang aktif menjabat PM Inggris pada tahun 1997-2007 ini, meminta Khadafi untuk menyelesaikan konflik secara damai dan tetap menjalin komunikasi dengannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun tidak lagi menjabat, Blair tetap memiliki pengaruh terhadap Khadafi. Saat itu, Khadafi bersikeras bahwa Libya diserang oleh sel-sel rahasia jaringan Al-Qaeda yang ingin menguasai Afrika dan menyerang Eropa.
"Jika Anda memiliki tempat aman untuk mengungsi, Anda harus pergi ke sana karena ini tidak akan berakhir dengan damai," ucap Blair mengingatkan diktator Libya itu seperti tertulis dalam transkrip.
Transkrip ini menyingkap apa yang ada dalam pikiran Khadafi ketika kerusuhan meluas di negaranya. Ketua Komisi Urusan Luar Negeri pada parlemen Inggris, Crispin Blunt, menyebut transkrip ini membantu memahami apakah peringatan terhadap Khadafi jelas diabaikan dan apakah para pembuat kebijakan negara-negara Barat kurang perspektif soal risiko intervensi.
Komisi meminta keterangan Blair pada Desember 2015, soal hubungannya dengan Khadafi. Kerusuhan Libya melengserkan rezim Khadafi pada pertengahan Februari 2011 lalu. Tercatat Blair dua kali menghubungi Khadafi, yakni pada 25 Februari 2011 dan yang kedua setelah Blair melaporkan hal ini ke tokoh-tokoh Amerika Serikat dan Uni Eropa. Khadafi melarikan diri dari Tripoli pada Agustus 2011 dan akhirnya tewas pada 25 Oktober tahun yang sama.
(nvc/fdn)