"Dia (Trump-red) memberikan hak kepada orang-orang untuk melukai kami (warga muslim)," ucap salah satu warga muslim AS, Ahmed Shedeed, yang pindah ke AS dari Mesir pada tahun 1980 lalu, seperti dilansir AFP, Selasa (8/12/2015).
Shedeed yang juga Direktur Pusat Islam Jersey City ini menyebut Trump sengaja memprovokasi kebencian dan kekerasan. "Saya meminta kepadanya, memohon kepadanya. Ini harus dihentikan -- seluruh tudingan ini. Lihatlah komunitas muslim sebagai bagian dari mozaik Amerika dan kami juga bagian dari Amerika. Kami tidak pergi ke mana-mana," tegasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami hidup dalam penderitaan, kami ketakutan. Kami menangis. Kami takut dengan orang-orang seperti dia (Trump-red). Jika Trump menjabat saat tragedi 9/11 dan dia memberikan pernyataan yang sama, saya yakin banyak dari kami yang terluka," ujar Shedeed.
(Baca juga: Gedung Putih Kecam Trump Soal Larangan Muslim ke AS)
Sarker Haque, pemilik toko kelontong di New York, dipukuli di kepala oleh seorang pria yang mengancam akan membunuh warga muslim. Dalam insiden akhir pekan lalu, Haque dipukuli seorang pria berkulit putih dan berusia 50-an tahun yang menyerukan "Saya ingin membunuh warga muslim".
Pria itu memukul Haque di wajah dan kepala, hingga bibirnya robek, juga menendangnya di bagian rusuk hingga Haque luka parah hingga harus dirawat di rumah sakit. Insiden itu membuat Haque hidup penuh ketakutan, untuk pertama kalinya setelah sekian lama dia tinggal di AS.
"Saya tidak pernah merasa tidak aman. Sekarang saya harus menengok ke kiri dan kanan," ucapnya.
(Baca juga: Serukan Larangan Muslim ke AS, Donald Trump Banjir Kecaman)
Seorang warga muslim lainnya, Najiba Saleh yang sudah tinggal di AS selama 30 tahun mengaku untuk pertama kalinya dia khawatir soal keselamatan dirinya dan keluarganya. Najiba tinggal di kota Hackensack, New Jersey bersama keempat anaknya.
"Sekarang saya memiliki anak-anak, saya takut. Ketika mereka pergi keluar rumah, mereka mengenakan hijab, Anda tahu mereka membaca Alquran yang mereka hormati," tuturnya, merujuk pada kegiatan anak-anaknya belajar Alquran ke rumah kerabatnya sebanyak empat kali seminggu.
"Ketika mereka meninggalkan rumah, saya takut, saya berpikir, bagaimana jika seseorang melihat mereka dan menjadikan mereka target?" ucapnya cemas.
(nvc/nwk)











































