"Enam serangan telah dihindari atau digagalkan oleh otoritas Prancis sejak musim semi tahun 2015. Abaaoud terlibat empat serangan di antaranya," tutur Menteri Dalam Negeri Prancis, Bernard Cazeneuve, kepada wartawan setelah kematian Abaaoud dipastikan Prancis, seperti dilansir AFP, Jumat (20/11/2015).
Menurut Cazeneuve, Abaaoud terlibat serangan teror terhadap sebuah gereja dekat Paris yang digagalkan pada April lalu. Pelaku serangan, Sid Ahmed Ghlam, tak sengaja menembak dirinya sendiri di bagian kaki.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dituturkan Cazeneuve bahwa seluruh rencana serangan teror terhadap Prancis yang berhasil digagalkan memiliki modus operandi yang sama. "Aksi kekerasan yang direncanakan dari luar negeri oleh pelaku jihad asal negara-negara Eropa, yang terlatih menggunakan senjata api dan kemudian dikirimkan ke wilayah kami untuk melakukan serangan," tuturnya.
"Semua orang memahami bahwa penting bagi Eropa untuk waspada, mengatur diri dan menjaga diri dari ancaman teroris," tegas Cazeneuve.
Abaaoud tewas dalam penggerebekan besar-besaran kepolisian Prancis pada Rabu (18/11) waktu setempat, atau selang 5 hari setelah serangan teror paris merenggut 129 nyawa pada 13 November. Abaaoud yang berkewarganegaraan Belgia ini diyakini berada di Suriah, di mana dia muncul beberapa kali dalam video ISIS yang menyerukan ancaman terhadap Eropa.
"Tidak ada informasi dari negara-negara Eropa lainnya yang mungkin dia singgahi sebelum tiba di Prancis, yang disampaikan kepada kami," ucap Cazenueve.
Baru pada 16 November, atau selang 3 hari setelah serangan teror Paris, otoritas Prancis menerima informasi dari salah satu negara di luar Eropa soal keberadaan Abaaoud di Yunani. Tidak diketahui pasti kapan tepatnya Abaaoud terdeteksi di Yunani, namun informasi itu mendasari otoritas Prancis untuk melakukan penggerebekan terhadap sebuah apartemen di wilayah Saint-Denis, Paris bagian utara. Penggerebekan itu menewaskan Abaaoud. (nvc/mad)











































