"Seperti biasa, kami tidak mengomentari persoalan intelijen, Namun demikian, kami mengambil keputusan didasarkan pada informasi yang kami miliki. Seperti yang dikatakan sebelumnya, ada kemungkinan besar bahwa pesawat maskapai Rusia dijatuhkan oleh bahan peledak," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Inggris, seperti dilansir media Rusia, Sputnik, Senin (9/11/2015).
Disampaikan Perdana Menteri David Cameron dan Menteri Luar Negeri Philip Hammond sebelumnya, bahwa kemungkinan besar pesawat maskapai Rusia jatuh karena bom. Klaim ini, senada dengan Amerika Serikat, didasarkan pada penyadapan komunikasi militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Suriah dan Mesir melalui satelit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernyataan terbaru Inggris itu telah ditanggapi oleh juru bicara Kremlin atau Istana Kepresidenan Rusia, Dmitry Peskov, yang membenarkan adanya pembagian informasi intelijen dari Inggris.
"Bisa dipastikan bahwa ada informasi intelijen tertentu yang diserahkan oleh pihak Inggris. Saya tidak bisa memberitahu informasi seperti apa itu, karena saya tidak memiliki akses terhadap informasi seperti itu. Tentu saja kami mengandalkan kerjasama saling menguntungkan dengan seluruh negara yang bisa membantu penyelidikan tragedi mengerikan ini," ucap Peskov kepada wartawan.
"Masih prematur untuk memberi pernyataan. Seperti Anda tahu, tidak ada pernyataan resmi, bahkan soal hasil penyelidikan awal, yang telah dirilis oleh tim penyidik," imbuhnya.
Sebelumnya, Rusia menyatakan keluhan dan kritikannya kepada Inggris karena tidak menyerahkan informasi intelijen itu kepada pihaknya, namun malah terlebih dahulu mengungkapkan ke publik. Penyelidikan insiden jatuhnya pesawat jenis Airbus A-321 ini dilakukan oleh tim pakar dari Rusia, Prancis, Jerman dan Irlandia, tempat pesawat terdaftar, dengan dipimpin otoritas Mesir, yang menjadi lokasi jatuhnya pesawat. (nvc/mad)











































