"Presiden Yameen telah mengumumkan keadaan darurat untuk memastikan keselamatan dan keamanan setiap warga negara," ujar juru bicara Yameen, Muaz Ali dalam postingan di akun Twitternya seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (4/11/2015).
Langkah ini dilakukan dua hari menjelang rencana aksi demo oleh partai oposisi utama, Partai Demokrasi Maladewa (MDP), yang pemimpinnya, Mohamed Nasheed dipenjara usai dinyatakan bersalah sesuai hukum antiteror yang banyak dikritik.
Aksi demo MDP di ibukota Male akan dilakukan untuk menekan Yameen agar membebaskan Nasheed, yang penahanannya telah menuai kritikan keras dari PBB dan kelompok-kelompok HAM internasional.
Keadaan darurat ini diberlakukan di tengah meningkatnya ketegangan di pulau bulan madu tersebut, menyusul ledakan di atas kapal cepat yang dinaiki Presiden Yameen pada 28 September lalu. Presiden Yameen tidak terluka dalam insiden itu, namun istrinya dan dua orang lainnya mengalami luka-luka.
Pihak Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) menyatakan, tak ada bukti bahwa ledakan tersebut diakibatkan sebuah bom. Namun otoritas Maladewa menyatakan, ledakan itu merupakan upaya pembunuhan Yameen. Wakil Presiden Ahmed Adeeb telah ditangkap pada 24 Oktober lalu setelah dituduh terlibat dalam ledakan di kapal Yameen tersebut. Dia dituduh melakukan "pengkhianatan tingkat tinggi".
Pekan ini, pihak Pasukan Pertahanan Nasional Maladewa (MNDF) menyatakan telah menemukan sebuah bom yang dikendalikan dari jarak jauh di dekat kediaman resmi presiden. Bom tersebut berhasil dijinakkan dengan aman. (ita/ita)











































