Pengusaha Hong Kong Ditangkap Terkait Dugaan Korupsi Pejabat China

Pengusaha Hong Kong Ditangkap Terkait Dugaan Korupsi Pejabat China

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 15 Okt 2015 20:08 WIB
Pengusaha Hong Kong Ditangkap Terkait Dugaan Korupsi Pejabat China
Ilustrasi (Thinkstock/digicomphoto)
Beijing - Pengusaha asal Hong Kong yang juga bos Queensway Group, Sam Pa, dilaporkan ditangkap di China. Penangkapan ini terkait dugaan korupsi yang menjerat seorang pejabat tinggi China yang pernah menjabat Direktur Sinopec, perusahaan kilang minyak terbesar di China.

Dilaporkan majalah Caixin dan dilansir South China Morning Post, Kamis (15/10/2015), Sam Pa ditahan polisi di sebuah hotel di Beijing pada 8 Oktober lalu. Penangkapan ini terjadi selang sehari setelah otoritas China mengumumkan penyelidikan terhadap Gubernur Fujian Su Shulin.

Su diselidiki atas kasus pelanggaran disiplin saat menjabat sebagai Direktur Sinopec. Tidak disebut lebih lanjut dakwaan yang dijeratkan kepada Su dan juga Sam Pa. Namun sebutan pelanggaran disiplin merupakan istilah halus otoritas China untuk tindak pidana korupsi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan mengutip sumber yang enggan disebut namanya, majalah Caixin melaporkan penangkapan Sam Pa terkait dengan penyelidikan kasus yang menjerat Su yang menjabat Direktur Sinopec periode tahun 2007-2011. Menurut sumber, kasus ini terkait temuan tim dari Badan Audit Pemerintah yang memeriksa Sinopec.

Sam Pa yang berusia 57 tahun lahir di Hong Kong dan memegang kewarganegaraan ganda, yakni Inggris dan Angola. Laporan Caixin menyebut, Sam Pa banyak membantu Sinopec mengamankan sejumlah ladang minyak di Angola ketika Su menjabat Manajer Umum Sinopec. Disebutkan Caixin, Sam Pa selama ini banyak menggunakan nama alias seperti Samo hui, Sam King, Tsui Kyung-wha, Ghiu Ka Leung dan Antonio Famtosonghiu Sampo Menezes.

Dijelaskan Caixin bahwa Sinopec bersama China Sonangol, perusahaan joint venture Queensway dengan perusahaan minyak negara di Angola, mengakuisisi lima ladang minyak lepas pantai di Angola antara tahun 2008-2013. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan jaringan yang dimiliki Sam Pa di negara-negara Afrika. Disebutkan juga bahwa Su membahas soal hal ini dengan Sam Pa di dalam pesawat pribadi Sam Pa.

Sinopec yang memegang 50 persen kepemilikan saham sepakat untuk menutupi seluruh biaya proyek ini, termasuk membiayai pembelian ladang minyak dan investasi untuk eksplorasi. Sedangkan perusahaan Sam Pa mendapatkan saham gratis.

"Perolehan ladang minyak di Angola sejak 2008 seolah menjadi lubang hitam bagi Sinopec dengan perusahaan terus berinvestasi tanpa menghasilkan laba komersial," sebut Caixin dalam laporannya. (nvc/nrl)


Berita Terkait