Di Pulau Kos, Wisatawan dan Pengungsi Suriah Berbaur di Pantai yang Sama

Di Pulau Kos, Wisatawan dan Pengungsi Suriah Berbaur di Pantai yang Sama

Nur Khafifah - detikNews
Minggu, 06 Sep 2015 19:49 WIB
Di Pulau Kos, Wisatawan dan Pengungsi Suriah Berbaur di Pantai yang Sama
Foto: Murad Sezer
Jakarta - Pulau Kos, sebuah pulau cantik di Yunani, merupakan tujuan wisata favorit. Pesona alamnya yang menawan membuat orang betah berlama-lama menghabiskan waktu di sana.

Ada yang bersantai di atas pasir, mandi di pantai atau mendayung perahu di lautan. Bisa jadi mereka sedang berlibur. Atau bisa juga mereka adalah pengungsi Suriah yang datang dari Turki. Biasanya pengungsi Suriah itu sedang menunggu dokumen mereka diproses agar dapat melanjutkan perjalanan melintasi daratan Yunani.

Ya, pulau Kos menjadi saksi kesenjangan sosial antara wisatawan yang sedang berlibur dengan pengungsi yang terkatung-katung menanti nasib mereka selanjutnya. Ada wisatawan yang peduli, namun banyak juga yang tetap melanjutkan liburannya tanpa menghiraukan kondisi sekitar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para pengungsi tersebut terlantar. Mereka tidur di tenda-tenda, bahkan ada sebagian yang tidur di jalanan. Di sebelah barat Pulau Kos, ada hotel bekas Kapten Elias yang dijadikan tempat penampungan darurat bagi ratusan migran. Pria, wanita, anak-anak bercampur baur dalam hotel yang tidak dilengkapi listrik dan toilet itu. Sementara di hotel lain di sampingnya, sejumlah wisatawan berbaring di kursi untuk berjemur atau bermain air di kolam renang. Para migran sempat mengamuk atas kondisi tersebut. Namun rupanya banyak turis yang tidak menyadari kemarahan para pengungsi itu.

"Ini tidak benar-benar mempengaruhi kami. Kami tidak punya masalah," ujar seorang wisatawan asal Polandia, Val Turewicz (34) seperti dikutip dari The Guardian, Minggu (6/9/2015).

Sebagian wisatawan yang peduli, membantu para pengungsi dengan membagikan makanan. Mereka juga meninggalkan sejumlah uang, pakaian dan perlengkapan mandi di hotel untuk didistribusikan kepada para pengungsi. Sabine Fischer, seorang perawat Jerman, mengatakan dia tidak menyadari masuknya pengungsi sebelum tiba di pulau itu. Fischer akhirnya memutuskan untuk membantu para pengungsi.

"Saya di sini, saya tidak harus melakukan pekerjaan apapun. Saya dapat membantu," katanya.

Isu pengungsi Suriah dan Afghanistan ini kembali marak setelah foto-foto seorang balita bernama Aylan Kurdi terdampar di pantai Turki. Kurdi yang tewas saat berusaha mencari harapan baru di Eropa membuka mata negara-negara tujuan para pencari suaka.

Salah satu orang terkaya di Mesir, Naguib Sawiris, berniat membeli sebuah pulau di Yunani atau Italia. Pulau ini nantinya akan disumbangkan ke para pengungsi perang. Ia akan membangun dermaga kecil untuk parkir perahu. Sawiris juga berjanji membiayai mereka untuk membangun rumah, sekolah, rumah sakit, universitas dan hotel sendiri.

"Yang saya perlukan adalah izin untuk menempatkan orang-orang ini di pulau tersebut. Setelah itu saya tidak minta apa-apa lagi. Saya bayar pulaunya, saya beri mereka pekerjaan, saya akan mengurus logistiknya. Saya tahu saya mampu melakukan semua itu," kata Sawiris seperti dikutip dari CNN. (khf/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini