Anak buah kapal (ABK) korban penganiayaan di KM Maulana 23 bercerita soal dirinya dan rekan lain disiksa hingga makan bubur berisi besi berkarat di atas kapal. Korban bernama Syawal Suswono (65) menyebut mereka disiksa gara-gara dianggap tidak memenuhi target menangkap cumi-cumi seberat 2 kilogram.
"Ya sanksinya itu. Sanksinya dipukul, push up, hormat bendera, dan makan bubur campur dengan besi," kata Syawal seusai tiba di Mapolres Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (8/10/2026).
Syawal mengaku tak tahu tujuan bubur yang dimakannya harus diberi besi berkarat. Dia hanya mengetahui bahwa besi itu ada dalam mangkoknya saat sedang makan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"(Besinya) tiga. (Ukuran) satu jengkal ini, iya, berkarat. Nggak muntah. Saya juga nggak tahu kalau dalam bubur itu ada besinya. Kalau sampai tahu ya saya juga nggak mau bubur itu saya makan," jelasnya.
Syawal masih ingat orang yang melakukan tindakan kekerasan itu adalah nakhoda kapal. Katanya mereka membuat empat orang korban menderita selama di atas kapal.
"Kalau yang makan bubur itu perintah dari kapten, nah dia nakhoda. (Namanya) Sarman. (Yang mukul) kapten juga dengan Anjas, wakil. Ya kasar dia. Melakukan kekerasan terus dia setiap hari," ungkapnya.
Selain dipukul, Syawal juga melihat dua orang rekannya disiram air panas. Katanya hal itu dilakukan setiap hari.
"Kalau pembunuhan nggak. Kekerasan tangan aja ya seperti dipukul, terus tendang, kadang pun siram air panas. Yang disiram air panas cuma dua orang aja," katanya.
Sebelumnya, Syawal mengaku pekerjaan jadi ABK kapal ditawarkan oleh seorang calo. Katanya dia mengenal orang tersebut, dan diberi pinjaman sebesar Rp 7 juta sebagai uang muka.
"Nah, saya ditawarkan kerja dengan calo, lalu saya mau. Sudah kenal. Mau ditawarin kerja terus kasbon Rp 7 juta," ucapnya.
Saat itu Syawal tidak bertanya soal berapa gaji yang akan didapatnya bila ikut. Dia hanya menerima uang tersebut.
"Kasbon aja. Gajinya nggak dikasih, nggak dijelaskan. Kasbon aja," katanya.
Dia mengatakan, uang hasil melaut itu awalnya akan dipakai untuk modal usaha dan kebutuhan. Katanya kalau sudah punya modal, dia enggan pergi ke laut lagi.
"Ya untuk modal. Untuk modal kerja lainnya gitu. kalau itu dapat modal ya saya nggak kembali lagi ke laut. Paling tidak ya jualan," katanya.
(tsy/lir)









































