"Rekan senegara kita, Isabelle Prime telah dibebaskan malam ini," demikian pernyataan kantor Presiden Prancis, seperti dilansir Reuters, Jumat (7/8/2015)
"Presiden Republik Prancis (Francois Hollande) ingin berterima kasih kepada seluruh pihak yang membantu tercapainya hal ini dan khususnya, Sultan Qaboos Bin Said, yang merupakan Sultan Oman," imbuh pernyataan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 24 Februari lalu, Prime dan penerjemah asal Yaman, Shereen Makawi diculik sekelompok pria bersenjata di ibukota Sanaa. Saat itu, keduanya sedang dalam perjalanan berangkat kerja. Prime sendiri bekerja sebagai konsultan untuk Yayasan Pembangunan Sosial Yaman.
Sumber dari kelompok etnis Yaman menyatakan pada Maret lalu, Prime akan dibebaskan, namun ternyata hanya Makawi yang dilepaskan. Hingga pada Juni lalu, sebuah video yang menampilkan Prime muncul dan dalam video itu, Prime memohon bantuan kepada Presiden Hollande dan Presiden Yaman Abd Rabo Mansour Hadi agar dibebaskan.
Namun situasi Yaman yang dilanda konflik sipil akhir-akhir ini membuat situasi semakin rumit. Terlebih Presiden Hadi malah melarikan diri ke Arab Saudi, karena terdesak oleh kelompok pemberontak Houthi yang mengambil alih ibukota Sanaa sejak September 2014 lalu. Yaman sendiri menjadi rumah bagi militan Al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP) yang disebut sebagai cabang Al-Qaeda paling aktif saat ini. (nvc/ita)










































