WikiLeaks Sebut AS Mata-matai Pemerintah dan Perusahaan Jepang

WikiLeaks Sebut AS Mata-matai Pemerintah dan Perusahaan Jepang

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 31 Jul 2015 17:53 WIB
WikiLeaks Sebut AS Mata-matai Pemerintah dan Perusahaan Jepang
Ilustrasi
Tokyo - Bocoran dokumen WikiLeaks menyebutkan otoritas Amerika Serikat memata-matai Jepang, yang merupakan sekutunya. Mulai dari politikus senior, bankir ternama hingga perusahaan besar seperti Mitsubishi disebut menjadi target spionase AS.

Disebutkan oleh WikiLeaks, seperti dilansir AFP, Jumat (31/7/2015), sedikitnya ada 35 target spionase AS di Jepang. Klaim spionase oleh Badan Keamanan Nasional (NSA) ini merupakan yang terbaru diungkapkan setelah spionase yang dilakukan AS terhadap sekutu lainnya, termasuk Jerman dan Prancis.

WikiLeaks tidak menyebut secara spesifik soal praktik penyadapan terhadap Perdana Menteri Shinzo Abe. Hanya disebut bahwa sejumlah pejabat senior Jepang, termasuk Menteri Perdagangan Yoichi Miyaza dan Gubernur Bank Jepang Haruhiko Kuroda menjadi target penyadapan intelijen AS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lebih lanjut, WikiLeaks menyebut praktik penyadapan AS ini terjadi pada periode pertama PM Abe menjabat, yakni sekitar tahun 2006. Kemudian pada tahun 2012, saat PM Abe mulai menjabat untuk periode kedua.

"Laporan itu menunjukkan bagaimana dalam pengintaian AS terhadap pemerintah Jepang, yang mengindikasikan informasi intelijen dikumpulkan dan diproses dari sejumlah kementerian dan kantor pemerintah Jepang," demikian disebut dokumen intelijen yang dibocorkan WikiLeaks.

"Dokumen itu menunjukkan kedalaman informasi soal pembahasan internal Jepang," imbuh bocoran tersebut, sembari menyebut isu-isu yang dikumpulkan dari Jepang di antaranya ialah isu perdagangan, nuklir dan kebijakan perubahan iklim.

Belum ada reaksi maupun tanggapan resmi dari pemerintah Jepang terkait bocoran WikiLeaks ini. Jepang merupakan salah satu sekutu penting AS di kawasan Asia-Pasifik dan kerap diajak berkonsultasi soal isu pertahanan, ekonomi maupun perdagangan. (nvc/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads