"Kami tak mau terus-menerus dirasuki kritik pada Islam," ujar redaktur dan penerbit Laurent Sourisseau di Deutsche Welle, dilansir Algemeen Dagblad, Sabtu (18 Juli 2015).
Menurut Sourisseau, dengan keputusan itu pihaknya ingin mempertahankan prinsip bahwa setiap orang dapat menggambar apa saja yang dia mau.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya kartunis Renald Luzier pada April silam mengatakan bahwa dia sudah tidak tertarik lagi untuk menggambar Nabi Muhammad.
"Saya sudah lelah, sebagaimana saya lelah menggambar mantan presiden Prancis Nicolas Sarkozy. Saya tak berencana untuk menggambar kehidupanku,"
Sebulan setelah itu Luzier mengumumkan pengunduran dirinya dari majalah Charlie Hebdo. Dia menambahkan bahwa produksi setiap edisi tanpa teman dan kolega yang terbunuh adalah suatu 'penyiksaan'.
Namun diduga ada keretakan meluas di kalangan awak majalah Charlie Hebdo. Antara lain masalah peran moral dan perselisihan mengenai uang jutaan Euro dari pemasukan ekstra dan donasi yang mengalir sejak serangan.
Dua penyerang yang disebut sebagai militan Islam menyerbu kantor Charlie Hebdo di Paris, 7 Januari 2015 lalu. Sebanyak 12 jurnalis, termasuk beberapa kartunis, tewas.
Serangan konon diklaim oleh Al Qaeda di Yaman, yang ingin menghukum majalah itu atas gambar-gambar yang melecehkan simbol-simbol agama Islam.
Buntut dari tragedi itu telah menempatkan publikasi kontroversial tersebut ke dalam debat global mengenai hak kebebasan berekspresi. Jutaan orang di seluruh dunia menyambut slogan 'Je suis Charlie'.
(es/dra)











































