Kementerian Pariwisata mengkonfirmasi rencana untuk mengerahkan 1.000 polisi bersenjata mulai 1 Juni mendatang untuk memperkuat kepolisian pariwisata. Para polisi pariwisata pun, untuk pertama kalinya, akan membawa senjata api.
"Mereka (polisi bersenjata) akan ditempatkan di dalam dan luar hotel-hotel, di pantai-pantai dan situs-situs pariwisata dan arkeologi," demikian pernyataan Kementerian Pariwisata seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (29/6/2015).
Otoritas Tunisia juga mengumumkan rencana untuk menutup 80 masjid karena dianggap menghasut ekstremisme.
Langkah ini diambil menyusul pembantaian pada Jumat, 26 Juni waktu setempat di pantai di Port El Kantaoui, sebelah utara Sousse. Serangan penembakan itu disebut sebagai serangan jihadis paling buruk dalam sejarah Tunisia.
Dalam insiden itu, seorang mahasiswa Tunisia yang menyamar sebagai turis, melepas tembakan secara membabi-buta dengan senapan serbu Kalashnikov. Selain menewaskan 38 orang, sebanyak 39 orang lainnya luka-luka dalam insiden maut itu.
Menurut saksi mata, Malek (16), pelaku sempat tersenyum lebar saat menembaki orang-orang di pantai. Kelompok militan ISIS telah mengklaim serangan penembakan itu. (ita/ita)











































