"Hal yang baru adalah sekarang klinik akan terbuka bagi siapa saja, tidak peduli jenis kelamin mereka, yang memang membutuhkan bantuan terkait kekerasan seksual dan/atau pemerkosaan," tutur seksolog dan manajer klinik ini, Karl Norwald kepada AFP, Kamis (25/6/2015).
Klinik tersebut terletak di kompleks rumah sakit Sodersjukhuset, Stockholm. Norwald berharap kebijakan baru kliniknya ini akan membantu menghilangkan stigma pemerkosaan laki-laki dan mendorong lebih banyak korban pria untuk mencari bantuan fisik maupun psikologi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami berharap dan akan bekerja untuk seluruh rumah sakit besar, agar bisa merawat korban kekerasan seksual tanpa mempedulikan jenis kelamin ... Pria dan wanita harus diperlakukan sama," ucap ahli psikoterapi pada Asosiasi Pendidikan Seksualitas Swedia (RFSU), Suzanna Boman.
Boman menyatakan, selama ini laki-laki yang menjadi korban pemerkosaan masih tabu dibahas. "Sangat sulit bagi pria untuk berbicara (soal pemerkosaan) agar dipercaya," sebutnya.
Data Dewan Pencegahan Kriminal Nasional Swedia menunjukkan, sekitar 370 korban dari total 6.700 korban pemerkosaan yang dilaporkan di Swedia sepanjang tahun 2014 lalu, berjenis kelamin laki-laki. Otoritas setempat menyebut data itu mungkin hanyalah ujung gunung es, karena diperkirakan hanya 10-20 persen kasus kekerasan seksual yang dilaporkan ke polisi. (nvc/ita)











































