Menteri Luar Negeri Jepang Fumio Kishida menegaskan, pemerintahnya berkomitmen untuk membantu upaya-upaya rekonsiliasi nasional di berbagai bidang di Asia, termasuk antara pemerintah Myanmar dan kelompok-kelompok etnis minoritas.
"Menyangkut para imigran non-reguler, termasuk kaum wanita dan anak-anak yang mencoba menyeberangi Samudera Hindia, Jepang telah memutuskan untuk menyalurkan US$ 3,5 juta melalui badan-badan global, seperti UN High Commissioner for Refugees (badan pengungsi PBB-red)," ujar Kishida dalam pidato publik seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (20/6/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penderitaan warga muslim Rohingya telah menarik perhatian dunia internasional setelah ribuan dari mereka, juga para migran Bangladesh menggunakan kapal-kapal reyot yang penuh sesak, untuk mencapai negara-negara Asia Tenggara.
Warga muslim Rohingya telah sejak lama mengalami diskriminasi sistemik dan perlakuan buruk dari pemerintah Myanmar. Meski telah lama bermukim di negara tersebut, namun hingga kini pemerintah Myanmar menolak mengakui Rohingya sebagai warga negara.
Badan PBB bahkan menyebut Rohingya sebagai salah satu minoritas paling tertindas di dunia.
(ita/ita)










































