Para pengacara Erdogan telah menuduh seorang editor surat kabar Turki melakukan spionase dan menginginkannya dipenjara seumur hidup. Hal ini makin menimbulkan kekhawatiran akan kebebasan media di Turki.
Menjelang pemilihan parlemen yang akan digelar 7 Juni mendatang, surat kabar Cumhuriyet membuat Erdogan marah dengan mempublikasi rekaman video, yang menunjukkan badan intelijen negara MIT membantu mengirimkan senjata ke Suriah.
Usai publikasi rekaman video tersebut, dalam artikel yang diposting di situsnya, Cumhuriyet menyatakan, editornya Can Dundar kini menghadapi beberapa dakwaan termasuk "kejahatan terhadap kemanusiaan" dan "memberikan informasi yang menyangkut keamanan nasional" lewat rekaman video tersebut.
Media Cumhuriyet memang telah lama dikenal sebagai pengkritik Erdogan dan partai berkuasa Turki, Justice and Development party (AKP). Disampaikan Cumhuriyet, para pengacara Erdogan telah mengajukan komplain ke kantor kejaksaan Istanbul.
Sebelumnya pada Sabtu, 30 Juni waktu setempat, kepada media pemerintah TRT, Erdogan menegaskan, jurnalis yang berada di belakang publikasi video tersebut akan "membayar mahal" atas tindakannya dan mengancam akan mengambil tindakan hukum.
Atas ancaman ini, Dundar tak gentar. "Kami jurnalis, bukan pegawai pemerintah. Tugas kami bukan untuk menyembunyikan rahasia kotor pemerintah, namun untuk meminta mereka bertanggung jawab atas nama rakyat," tandasnya seperti dilansir The Guardian, Rabu (3/6/2015).
Menurut Cumhuriyet, video tersebut bertanggal 19 Januari 2014. Erdogan menegaskan, truk-truk yang ada di dalam video tersebut adalah milik MIT dan tengah mengangkut bantuan untuk warga Turki di Suriah.
Media Reuters sebelumnya melaporkan pada 21 Mei, MIT membantu mengirimkan persenjataan ke sejumlah bagian wilayah Suriah yang berada di bawah kendali para pemberontak pada akhir 2013 dan awal 2014. Reuters mengutip keterangan seorang jaksa Turki dan saksi di pengadilan.
Keterangan ini bertolak belakang dengan pernyataan pemerintah Turki yang membantah mengirimkan persenjataan ke para pemberontak Suriah.
(Rita Uli Hutapea/Rita Uli Hutapea)










































