Seperti dilansir Reuters, Selasa (3/3/2015), Direktur Intelijen Nasional AS, James Clapper menyatakan, tidak semua warga AS yang pergi ke Suriah memiliki tujuan berjihad dan bertempur dengan militan di sana. Beberapa orang, menurut Clapper, menjadi relawan kemanusiaan di Suriah.
AS dan sekutunya meyakini bahwa lebih dari 20 ribu pelaku jihad asing yang berasal dari 90 negara di dunia, telah pergi ke Suriah. Tidak sedikit yang bergabung dengan militan ISIS, yang menguasai beberapa wilayah Suriah dan Irak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Clapper menyatakan, sejauh ini belum muncul serangan teror yang direncanakan oleh pelaku jihad yang baru pulang dari Suriah.
Dalam sebuah forum di Dewan Urusan Luar Negeri, Clapper menegaskan, sepanjang tidak terlibat aksi kekerasan di luar negeri, merupakan hak setiap warga negara AS untuk pulang kembali ke negaranya.
Lebih lanjut, Clapper menyatakan bahwa prioritas AS dan sekutu dalam operasi militer di Suriah ialah pertempuran melawan ISIS. Meskipun AS meyakini bahwa penting bagi Presiden Bashar al-Asad untuk segera lengser dari jabatannya.
"Daya tarik bagi semua ekstremisme ini ... adalah karena dirinya (Assad-red)," ucapnya.
Clapper mengaku, upaya AS untuk merekrut dan melatih pemberontak Suriah merupakan langkah yang harus terus dilakukan dalam jangka panjang. "Masalahnya adalah dibutuhkan lebih banyak waktu untuk mendapatkan kekuatan yang akan memberikan dampak besar," tandasnya.
(nvc/ita)











































