"Meskipun saya merasa kehilangan yang sangat besar, saya tetap merasa bangga pada suami saya yang melaporkan beban penderitaan orang-orang di area konflik seperti di Irak, Somalia dan Suriah," ucap istri Goto, Rinko seperti dilansir AFP, Senin (2/2/2015).
"Merupakan hasratnya untuk menyoroti dampaknya terhadap orang-orang biasa, terutama melalui mata anak-anak, dan menginformasikannya kepada kita mengenai tragedi perang tersebut," imbuhnya.
Goto dan Rinko memiliki dua anak. Anak kedua mereka baru lahir beberapa minggu sebelum Goto pergi ke Suriah pada Oktober 2014 lalu. Goto nekat pergi ke Suriah untuk menyelamatkan temannya, Haruna Yukawa yang diculik ISIS terlebih dahulu. Namun dia malah ikut diculik.
Kabar pemenggalan ini juga menjadi berita buruk bagi ibunda Goto, Junko Ishido, yang selama ini gencar menyerukan kepada pemerintah Jepang untuk berusaha keras menyelamatkan putranya.
"Saya tidak bisa menemukan kata-kata untuk menggambarkan perasaaan saya tentang kematian menyedihkan putra saya," tutur Junko Ishido sembari terisak.
Jepang selama ini tergolong jarang terlibat dalam konflik di kawasan Timur Tengah dan jarang menjadi target kelompok militan, sehingga tragedi penyanderaan semacam ini menjadi kabar yang sangat mengejutkan bagi seluruh warga Jepang.
Beberapa warga Jepang mulai khawatir dengan kiprah militan di luar negeri, terutama ISIS. "Sangat menyeramkan -- mereka (militan-red) mengatakan mereka menargetkan warga Jepang sekarang," ucap sorang mahasiswa di Tokyo, Kyosuke Kamogawa (21).
"Ini membuat saya merinding," tandasnya.
(nvc/ita)











































