Aksi penembakan di gedung parlemen Kanada mengguncang publik di negara yang selama ini dikenal aman tersebut. Penjagaan keamanan pun kini ditingkatkan di berbagai kota di Kanada.
Insiden penembakan di di gedung parlemen Kanada di Ottawa pada Rabu, 22 Oktober waktu setempat, menewaskan satu tentara dan juga pelaku. Atas peristiwa itu, pengamanan di sekitar gedung-gedung pemerintah, sekolah dan sistem transportasi massal pun ditingkatkan.
"Anda bisa lihat, biasanya berita penembakan datangnya dari tetangga di selatan kami, namun tidak pernah mendengar tentang hal seperti ini terjadi di sini, di Kanada," tutur Dustin Degenstein (25) yang tinggal di Calgary, Alberta yang mengaku kaget atas insiden penembakan itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aksi penembakan brutal relatif langka di Kanada. Negeri itu memiliki aturan persenjataan yang lebih ketat dibandingkan negara tetangga Amerika Serikat, yang kerap mengalami insiden penembakan.
Meski begitu, sejumlah aksi penembakan pernah terjadi di Kanada. Pada tahun 1989, pemuda Kanada berumur 25 tahun, Marc Lรฉpine menewaskan 14 wanita di Ecole Polytechnique, di Montreal. Dia menembaki para korbannya sembari menerikkan "Saya benci kaum feminis."
Kemudian pada tahun 2006, seorang pria bersenjata menewaskan seorang mahasiswa di Dawson College, Montreal. Beberapa orang lainnya juga terluka dalam insiden tersebut.
Pada tahun 2012 lalu, seorang pria melepaskan tembakan ke arah perdana menteri terpilih Quebec, Pauline Marois saat wanita itu tengah berpidato di Montreal. Tembakan tersebut menewaskan seorang teknisi panggung. Perdana Menteri Kanada Stephen Harper kala itu mencetuskan "kekerasan seperti itu tak punya tempat di Kanada".
(ita/ita)











































