Organisasi HAM internasional yang bermarkas di London ini mengutip keterangan dan testimoni para korban aksi keji ISIS. Kebanyakan menuding militan tersebut melakukan kejahatan perang, termasuk pembantaian dan penculikan massal.
"Pembantaian dan penculikan yang dilakukan oleh ISIS memberikan bukti baru bahwa serangkaian aksi pembersihan etnis terhadap kaum minoritas di seluruh wilayah Irak bagian utara," ujar Donatella Rovera selaku penasihat senior Amnesty International untuk penanganan krisis, seperti dilansir AFP, Selasa (2/9/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Minggu (31/8), militan Irak yang dibantu pasukan Kurdis dan kekuatan udara militer AS berhasil mengusir ISIS yang berusaha menguasai kota Amerli, yang ada di bagian utara Irak.
AS juga melancarkan serangan udara terhadap ISIS di wilayah tersebut. Ini merupakan pertama kalinya AS memperluas operasi militernya terhadap ISIS di Irak.
Catatan terbaru PBB menyebutkan bahwa sedikitnya 1.420 orang tewas akibat kekerasan ISIS di Irak. Jumlah tersebut hanya tercatat untuk bulan Agustus saja. Dalam statemen PBB disebutkan, setidaknya 1.370 orang juga terluka akibat berbagai kekerasan di Irak selama periode yang sama.
Sedangkan PM Australia Tony Abbott baru-baru ini menyebut kekuatan ekstrem dibenarkan untuk melawan ISIS. Dia juga membandingkan kekejaman ISIS dengan Nazi dan komunis.
(nvc/asp)











































