Kepala militer Jenderal Prayut Chan-O-Cha disebut-sebut akan menjadi kandidat tunggal PM saat majelis nasional yang beranggotakan 197 orang, berkumpul pada Kamis, 21 Agustus besok untuk memilih pemimpin baru Thailand.
"Sulit untuk menemukan orang yang akan menjadi PM selain Jenderal Prayut. Jika bukan dia, siapa lagi?" ujar seorang pejabat junta militer seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (20/8/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut seorang pejabat junta lainnya, yang secara resmi dikenal sebagai National Council for Peace and Order (NCPO), Prayut akan dipilih karena dia cocok untuk jabatan tersebut.
"Menurut polling-polling, dia mendapatkan dukungan publik dan warga juga mengagumi kerja NCPO," tutur pejabat junta tersebut.
Jenderal Prayut merebut kekuasaan dari pemerintahan terpilih Thai dalam kudeta tak berdarah pada 22 Mei lalu. Atau tak lama setelah Yingluck Shinawatra diberhentikan dari jabatannya sebagai PM lewat sebuah putusan pengadilan.
Thailand telah dilanda perpecahan politik sejak mantan PM Thaksin Shinawatra, yang merupakan kakak laki-laki Yingluck, digulingkan dari kekuasaannya dalam kudeta tahun 2006 silam. Thaksin kabur dari Thailand pada tahun 2008 untuk menghindari dakwaan korupsi, yang menurutnya bermotif politik semata.
(ita/ita)











































