"Kami telah mengalami perang sebelumnya, dengan Khadafi, namun sekarang ini jauh lebih buruk," tutur Paraskevi Athineou, wanita Yunani yang tinggal di Libya.
"Kekacauan merajalela. Tak ada pemerintahan, kami tak punya makanan, tak ada bahan bakar, tak ada air, tak ada listrik hingga berjam-jam," cetus wanita tersebut seperti dikutip kantor berita AFP, Sabtu (2/8/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Libya telah mengalami kondisi tidak aman yang kronis sejak tergulingnya Khadafi pada 2011 silam. Pemerintah Libya yang baru tak mampu menangani para milisi yang membantu menggulingkan Khadafi.
"Begitu banyak orang yang meninggal untuk menjadikan negeri ini lebih baik. Namun sekarang kami mulai saling membunuh dalam perang sipil," kata Osama Monsour, warga Libya yang tinggal di ibukota Tripoli.
Pertempuran antara para milisi yang bertikai terus terjadi di sejumlah wilayah Libya. Bahkan di Tripoli, pertempuran tersebut telah menyebabkan penutupan bandara internasional. Sementara kelompok-kelompok Islamis juga bertempur melawan pasukan khusus Libya di kota Benghazi, Libya timur.
"Ini lebih buruk daripada 2011," cetus Ali Gariani, pria Libya yang menikahi wanita Yunani. "Saat itu kami dibombardir oleh NATO. Namun sekarang kami sedang dibombardir oleh warga Libya sendiri, dan itu sangat memalukan," ujarnya.
(ita/ita)











































