Pelaksanaan pemilihan presiden di Suriah banyak menuai respons negatif. Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius menyebut pemilu yang digelar di Suriah sebagai pemilihan palsu.
"Dalam pemilihan ini, pilihannya hanya antara Bashar dan Bashar," ucap Fabius merujuk pada pemimpin Suriah Presiden Bashar al-Assad, seperti dilansir AFP, Rabu (4/6/2014).
"Pemilu yang palsu ini hanya akan membenarkan kemampuan Bashar al-Assad untuk melanjutkan jenis kebijakannya yang kita semua ketahui, yakni pertempuran sengit (melawan oposisi) dan mempertahankan dirinya sendiri dalam kekuasaan," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pemilu yang digelar pada Selasa (3/6) kemarin, Presiden Assad diyakini memenangkan pemilihan presiden, yang oleh kubu oposisi Suriah disebut sebagai 'lelucon'. Dalam pilpres ini, para lawan politik rezim Assad tidak diikutsertakan. Pilpres pun hanya digelar di wilayah-wilayah yang berada di bawah kendali militer Suriah.
Dalam pilpres ini, Assad bertarung melawan dua kandidat yang nyaris tak pernah terdengar namanya sebelumnya, yakni Maher al-Hajjad dan Hassan al-Nuri.
PBB secara terpisah mengingatkan, konflik Suriah yang sudah berjalan selama 3 tahun akan terus berlanjut bahkan setelah hasil pemilu diumumkan.
(nvc/ita)











































