Sekjen PBB Ban Ki Moon menawarkan diri untuk menjadi mediator dalam krisis yang tengah berlangsung di Ukraina. Sekjen Ban menekankan pentingnya mediasi untuk mengakhiri konflik dan kekerasan yang semakin meluas di negara tersebut.
"Saya telah membahas persoalan ini dengan seluruh pihak terkait -- pemimpin Ukraina, pemimpin federasi Rusia, Uni Eropa dan juga Amerika," ucap Sekjen Ban kepada kantor berita AFP di Abu Dhabi, Selasa (6/5/2014).
"Saya mendesak keempat pihak tersebut untuk menyelesaikan masalah dengan cara damai dan saya siap untuk ikut berperan jika memang diperlukan," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rusia menyebut operasi itu sebagai perang terhadap rakyatnya sendiri. Pertempuran militer Ukraina dengan kelompok separatis pro-Rusia semakin menjadi pada Senin (5/5) kemarin, ketika sedikitnya 4 tentara Ukraina tewas dan 30 orang lainnya luka-luka.
Terhadap serangkaian aksi kekerasan tersebut, Sekjen Ban menyatakan keprihatinannya. Dia juga menyerukan kepada semua pihak untuk mematuhi kesepakatan Jenewa.
"Saya sekarang mendesak dengan tegas agar semua pihak terkait bertemu lagi dan melihat kembali apa yang salah, mengapa kesepakatan tersebut tidak dijalankan, mengapa pihak-pihak terkait justru terlibat kekerasan," ujarnya.
"Saya mendesak kembali, dalam bentuk yang paling kuat, agar seluruh rakyat Ukraina dan mitranya mengatasi isu ini secara damai sebelum semuanya menjadi tak terkendali dan menciptakan konsekuensi besar di luar kendali siapapun," tegas Sekjen Ban.
Secara terpisah, juru bicara PBB, Farhan Haq menyatakan, belum ada mediasi yang akan diumumkan dalam waktu ini. Menurutnya, mediasi harus diminta secara langsung oleh pihak-pihak terkait.
"Tentunya layanan PBB selalu siap jika kedua belah pihak yang terlibat konflik atau pertikaian, memang menginginkannya," tandasnya.
(nvc/ita)











































