Keluarga Penumpang MAS Ingin Bicara Langsung dengan Pemerintah Malaysia

Keluarga Penumpang MAS Ingin Bicara Langsung dengan Pemerintah Malaysia

- detikNews
Jumat, 14 Mar 2014 14:55 WIB
Keluarga Penumpang MAS Ingin Bicara Langsung dengan Pemerintah Malaysia
Keluarga penumpang MAS (The Malaysian Insider)
Beijing - Tidak banyak mendapat informasi mengenai pencarian pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH370, anggota keluarga meminta untuk berbicara langsung dengan pemimpin Malaysia. Sejumlah keluarga penumpang asal China ingin berbicara dengan pejabat tinggi Malaysia melalui telekonferensi.

Meski telah ditemui oleh perwakilan otoritas Malaysia dan juga pihak MAS, sejumlah keluarga penumpang asal China tidak puas karena merasa tidak mendapat jawaban atas pertanyaan yang ada di kepala mereka. Demikian seperti dilansir kantor berita Bernama, Jumat (14/3/2014).

Fokus utama yang menjadi kekhawatiran keluarga penumpang adalah keberadaan pesawat MAS MH370. Juga kinerja serta pencapaian otoritas Malaysia dalam misi pencarian pesawat tersebut.

Sejumlah keluarga penumpang meminta untuk bisa berbicara langsung dengan pejabat tinggi Malaysia, baik dari otoritas penerbangan maupun dari militer atau Angkatan Laut. Termasuk juga dengan pejabat yang mengetahui dan memahami kinerja radar dan telekomunikasi pesawat.

Sementara itu, pihak MAS telah menjanjikan bahwa mereka akan menanggung biaya akomodasi seluruh anggota keluarga korban, yang hingga saat ini masih berada di salah satu hotel di Beijing sejak pekan lalu. Pihak MAS juga akan menanggung biaya telepon yang dilakukan keluarga korban sejak 8 Maret, baik yang di Beijing maupun Kuala Lumpur.

Maskapai MAS juga sempat menawarkan kepada keluarga korban yang masih ada di China untuk terbang langsung ke Kuala Lumpur, Malaysia demi mendapat informasi perkembangan pencarian di sana. Namun penawaran ini ditolak keluarga korban. Keluarga korban di China pun setiap harinya mendapat informasi dari otoritas Malaysia yang menemui mereka di Beijing.

Sejauh ini, upaya pencarian MAS MH370 telah melibatkan sekitar 12 negara termasuk Indonesia. Fokus pencarian masih di seputar Laut China Selatan dan juga Selat Malaka, serta Laut Andaman. Namun militer AS memperluas pencarian hingga ke Samudera Hindia setelah muncul analisis bahwa pesawat tersebut putar balik ke arah Barat.


(nvc/ita)


Berita Terkait