"Dalam beberapa jam ini kondisi mantan perdana menteri Ariel Sharon kian memburuk. Kondisinya sangat kritis dan keluarganya saat ini berada di sampingnya sepanjang waktu," demikian bunyi pernyataan dari Rumah Sakit Sheba yang berada dekat kota Tel Aviv tempat Sharon dirawat, seperti dilansir AFP, Kamis (9/1/2014).
Sumber di rumah sakit yang dikutip media lokal menyebut umur Sharon tinggal beberapa hari lagi. "Bahkan bisa jadi tinggal beberapa jam," bisik sumber tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eks pemimpin kubu nasionalis sayap kanan dalam politik Israel itu mengalami stroke akut pada 4 Januari 2006 silam. Sejak itu, pemimpin politik yang dikenal dengan kebijakan garis kerasnya terhadap rakyat Palestina ini mengalami koma yang tidak pulih-pulih hingga kini.
Keprihatinan terhadap kondisi Sharon datang dari para sekutunya. Menteri Luar Negeri AS, John Kerry yang tiba di Israel pada awal kunjungan 4 harinya ke Timur Tengah untuk kelanjutan perjanjian Israel-Palestina menyampaikan keprihatinan mendalam.
"Pikiran kita, pikiran saya adalah keluarga Sharon," tuturnya jelang pertemuan dengan Benyamin Netanyahu.
Sharon pertama kali terpilih sebagai perdana menteri pada Februari 2001, beberapa bulan setelah aksinya menginjak kompleks masjid al Aqsa sehingga memicu kemarahan rakyat Palestina hingga pecah gerakan perlawanan yang disebut intifadah kedua.
Pada November 2005, ia meninggalkan Partai Likud untuk membentuk partai baru, Kadima, karena frustrasi oleh kelompok garis keras yang menentang penarikan kehadiran tentara dan pemukim dari Jalur Gaza dan untuk setiap konsesi lebih lanjut di Tepi Barat yang diduduki.
Sharon sangat meyakini Israel harus terpisah dari Palestina dan secara sepihak menentukan perbatasannya sendiri .
Sharon dijuluki 'Buldozer' karena kebijakan politiknya, baik untuk gaya maupun fisiknya. Orang Arab juga mengingat Sharon sebagai 'Tukang Jagal dari Beirut' karena pembantaian pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila.
(trq/dnu)











































