Beberapa tahun lalu, Suthep Thaugsuban memegang jabatan penting sebagai Wakil Perdana Menteri Thailand dan juga pejabat eksekutif partai tertua di Thailand. Kini, politikus berusia 64 tahun ini memilih turun ke jalanan bersama pendukungnya untuk memperjuangkan reformasi pemerintahan Thailand.
Suthep meninggalkan penampilan khasnya yang biasa mengenakan setelan jas dan dasi. Dia juga menjauhkan diri dari kelompok oposisi, yakni Partai Demokrat yang pernah menaunginya dan berjaya pada masa pemerintahan Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva sejak tahun 2005 lalu.
Dengan pakaian casual mengenakan kemeja hitam dengan bendera Thailand menempel di dadanya, Suthep menjalankan panggilan terbarunya sebagai pejuang jalanan. Suthep merupakan tokoh utama di balik unjuk rasa besar-besaran yang meluas sejak awal pekan ini di Bangkok. Demikian seperti dilansir Washington Post, Kamis (28/11/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak awal pekan ini, sudah 19 gedung kementerian di Bangkok diduduki para demonstran yang dilaporkan berjumlah puluhan ribu orang. Namun para demonstran akan berhenti sejenak dan tidak berdemo pada Kamis (28/11) ini.
"Kami menyukai cara yang penuh kedamaian," ucap Suthep kepada media setempat, dengan suaranya yang serak karena terlalu banyak berorasi di hadapan para demonstran.
"Tapi jika kami tidak berhasil, maka saya siap untuk mati di medan perang," imbuhnya, menegaskan tekadnya yang bulat untuk menggulingkan PM Yingluck. "Orang-oang ini hanya akan berhenti ketika kekuasaan negara memihak kepada mereka. Tidak akan ada negosiasi," tegas Suthep.
Upaya penggulingan PM Yingluck ini dilakukan oleh para demonstran tanpa adanya bantuan militer maupun pengadilan. PM Yingluck sendiri telah menyerukan negosiasi antara dirinya dengan para demonstran untuk mengakhiri krisis yang terjadi.
Yingluck menyatakan, dirinya ingin menghindarkan kekerasan. Meski mengawal jalanannya unjuk rasa, tentara keamanan Thailand sama sekali belum menembakkan gas air mata untuk menghalau demonstran yang berusaha menduduki sejumlah gedung pemerintahan.
Surat perintah penangkapan telah dikeluarkan pengadilan terhadap Suthep, namun dia mengabaikannya dan terus berunjuk rasa.
Sebagai tanggapan atas aspirasi ini, parlemen Thailand akan menggelar voting mosi tidak percaya terhadap Yingluck, pada Kamis (28/11) ini. Namun mengingat partai yang menaungi Yingluck, Puea Thai Party sangat mendominasi di parlemen jika dibandingkan kelompok oposisi, Democratic Party, maka Yingluck diprediksi akan bertahan.
(nvc/nwk)











































