"Dewan Keamanan akan menggelar sidang pada Senin (14/1), pukul 12.00 waktu setempat atas permintaan Prancis untuk membahas situasi di Mali," ujar juru bicara utusan Prancis untuk PBB, seperti dilansir AFP, Senin (14/1/2013).
Permohonan Prancis yang merupakan salah satu anggota tetap Dewan Keamanan PBB ini diutarakan di tengah konflik yang terjadi di Mali yang terletak di kawasan Afrika Barat. Perseteruan terjadi antara pemerintah dengan pemberontak separatis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pesawat tempur Prancis menyerang persembunyian para separatis di wilayah Gao dan Kidal yang ada di Mali bagian utara. Serangan tersebut mampu memukul mundur kelompok separatis yang sebelumnya sempat mendekat ke wilayah ibukota Bamako.
"Menghentikan para teroris -- telah berhasil dilakukan. Kini, kami mulai 'mengurusi' markas-markas dan persembunyian mereka," ujar Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius.
Secara terpisah, Presiden Prancis Francois Hollande menyatakan misi pihaknya di Mali belumlah berakhir. Dikabarkan bahwa pasukan khusus yang berasal dari negara-negara kawasan Afrika Barat juga diterjunkan ke Mali.
Pasukan tersebut telah diresmikan oleh 15 negara anggota Dewan Keamanan PBB dan memiliki misi khusus untuk membantu pemerintah Mali kembali mendapat kendali penuh atas wilayah-wilayahnya. Pasukan yang beranggotakan 600 tentara tersebut akan dipimpin oleh Jenderal Shehu Abdulkadir dari Nigeria.
(nvc/ita)











































