Ayah dari aktivis sekolah di Pakistan yang ditembak oleh Taliban, Malala Yousafzai, Ziauddin Yousafzai, mengatakan bahwa putrinya sudah mulai pulih dari luka tembaknya. Ziauddin menyebut bahwa tragedi yang menimpa anaknya adalah titik balik bagi Pakistan.
"Ketika ia jatuh, Pakistan berdiri. Ini adalah titik balik," kata Ayah Malala, Ziauddin Yousafzai, sebagaimana dikutip dari laman BBC, Sabtu, (27/10/2012).
Ia menyatakan bahwa putrinya akan bangkit untuk mengejar mimpinya setelah dinyatakan pulih dari luka tembak yang dialami. Ziauddin merasa bersyukur bahwa puterinya bisa diobati pada waktu yang tepat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika Ziauddin melihat Malala untuk pertama kalinya bisa berdiri di rumah sakit di Birmingham, ia mengaku telah menangis. Ia menyebut hal itu sebagai sebuah keajaiban anaknya bisa selamat setelah peluru merumput di dalam otaknya. "Seluruh tubuhnya bengkak," kata Ziauddin ketika pertama kali melihat Malala setelah penembakan.
Bahkan, Yousafzai mengatakan ia telah membuat persiapan untuk pemakamannya anaknya yang ia pikir tak akan selamat. Namun ketika ia melihat Malal membersihkan mulutnya sendiri dengan kerudungnya pada penerbangan helikopter, ia kemudian berpikir mungkin kondisinya tidak terlalu serius.
Malala Yusafzai pertama kali dirawat di rumah sakit di lembah Swat, kemudian diterbangkan dengan helikopter ke Peshawar setelah pria bersenjata menembaknya di bus sekolahnya di kota utama Mingora.
Titik balik
Pasukan Taliban Pakistan telah mengklaim serangan terhadap Malala dengan menembaknya adalah untuk "mempromosikan sekularisme". Malala diketahui telah berkampanye untuk hak-hak perempuan agar memiliki pendidikan.
Saat Malala ditembak kelompok Taliban, para ahli bedah di Pakistan bekerja untuk untuk menyelamatkan hidupnya beroperasi untuk menghapus peluru yang bersarang di leher Malala. Tapi akhirnya Malala diterbangkan ke Inggris karena kebutuhan untuk lingkungan yang aman bagi kesembuhannya.
Ziauddin mengatakan keputusan untuk memindahkan Malala ke Inggris, telah diambil oleh Presiden Pakistan. Ia menegaskan putrinya telah menerima pengobatan yang tepat, "pengobatan yang tepat di tempat yang tepat pada waktu yang tepat". kata Ziauddin.
Serangan terhadap Malala, menurut Ziauddin karena tujuan untuk menentang dan membunuh anaknya. "Orang yang menyerang dirinya, mereka ingin membunuhnya," kata Ziauddin.
"Saya hanya akan mengatakan bahwa ia jatuh sementara, dia akan bangkit, dia akan berdiri lagi dan dia bisa berdiri sekarang. Tapi ketika dia jatuh, Pakistan berdiri." lanjutnya.
Dia berharap insiden itu akan menjadi titik balik. Yousufzai mengatakan putrinya akan kembali ke Pakistan setelah dia pulih dan Malala bertekad untuk melanjutkan sekolahnya.
Sebelumnya, pada 9 Oktober lalu, Malala ditembak oleh militan-militan Tehrik-e Taliban Pakistan (TTP). Insiden itu terjadi di atas sebuah bus sekolah di Kota Mingora. Penembakan Malala terkait keberaniannya menentang ekstremisme. Juga dikarenakan aktivitasnya selama ini, yang gencar mengkampanyekan pendidikan bagi kaum perempuan di daerah Lembah Swat, Provinsi Khyber Pakhtunkhwa.
Insiden penembakan Malala mendapat perhatian besar dari pemerintah Pakistan. Sejumlah pemimpin dunia seperti Sekjen PBB Ban Ki-moon dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama pun mengecam penembakan tersebut.
Malala mulai menyita perhatian dunia saat dirinya berumur 11 tahun. Kala itu dia menulis blog ke BBC yang membeberkan tentang kejahatan yang dilakukan Taliban di Lembah Swat. Salah satu yang ditulisnya saat itu adalah ketika Taliban membakar sebuah sekolah khusus anak perempuan di daerah tersebut. Diketahui bahwa Taliban melarang keras anak-anak perempuan di wilayah tersebut pergi bersekolah.
(/fdn)











































