Diduga Berniat Serang Kedubes AS, Profesor Bangladesh Ditangkap

Diduga Berniat Serang Kedubes AS, Profesor Bangladesh Ditangkap

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 26 Sep 2012 18:23 WIB
Diduga Berniat Serang Kedubes AS, Profesor Bangladesh Ditangkap
Ilustrasi
Dhaka, - Diduga mendalangi rencana serangan ke Kedutaan Besar Amerika Serikat (Kedubes AS), seorang profesor sebuah universitas ternama di Bangladesh ditangkap polisi. Rencana serangan tersebut diduga terkait film 'Innocence of Muslims' yang merendahkan Islam dan Nabi Muhammad.

Profesor bernama Syed Golam Maola ini ditahan polisi setempat pada Senin (24/9) malam waktu setempat. Maolo dikenal sebagai profesor yang mengajar Ilmu Manajemen di Universitas Dhaka yang ternama di Bangladesh.
Β 
Penangkapan Maola dilakukan setelah tim anti-terorisme menginterogasi seorang aktivis yang ikut serta dalam unjuk rasa memprotes film kontroversial tersebut di ibukota Dhaka pada Senin (24/9). Si aktivis ternyata merupakan anggota kelompok militan yang dilarang di Bangladesh.

"Kami menahan seorang demonstran muda dari Hizb ut-Tahrir dalam unjuk rasa tersebut. Beberapa saat kemudian, kami menahan Maola berdasar informasi awal yang kami peroleh darinya (demonstran muda-red)," ujar juru bicara Kepolisian Dhaka Masudur Rahman kepada AFP, Rabu (26/9/2012).

Polisi menyebut Maola sebagai pejabat senior dalam kelompok militan yang dilarang di Bangladesh tersebut. Kini, Maolo masih dalam penahanan kepolisian setempat dan selanjutnya dia akan dimintai keterangan soal tudingan penyerangan Kedubes AS yang dialamatkan padanya.

Beberapa minggu terakhir, sejumlah kelompok Islam di Bangladesh menggelar serangkaian unjuk rasa di Dhaka untuk memprotes film 'Innocence of Muslims'. Namun aksi-aksi tersebut tidak berhasil digelar di dekat Kedubes AS karena aparat selalu menghadang mereka. Namun aksi unjuk rasa yang terjadi Senin kemarin, mengejutkan aparat setempat.

Kelompok Hizb ut-Tahrir merupakan kelompok militan global yang ingin menggabungkan negara-negara muslim dunia di bawah satu negara Islam. Kelompok militan ini dilarang di sejumlah negara, termasuk Bangladesh.

(nvc/ita)


Berita Terkait