Para penyidik telah merilis rekaman CCTV tentang seorang pria yang diyakini sebagai pelaku bom bunuh diri yang terjadi Rabu, 18 Juli tersebut. Kalina Tchapkanova, seorang penyidik Bulgaria mengatakan, sehari sebelum serangan bom tersebut, tersangka telah berada di Ravda, sekitar 20 kilometer dari Burgas. Di kota kecil pinggir laut itu, dia mencoba merental mobil namun ditolak karena SIM-nya meragukan.
Tchapkanova mengutip keterangan saksi mata yang mengatakan tersangka berbahasa Inggris dengan logat tertentu yang kemungkinan logat Arab.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut sumber-sumber, pihak penyidik Bulgaria yang bekerja sama dengan penyidik Israel, saat ini fokus ke warga Bulgaria yang belum lama ini berpindah ke agama Islam. Juga pada warga Libanon yang tinggal di Bulgaria, ini dikarenakan adanya dugaan keterlibatan Hizbullah dalam serangan bom tersebut.
Kelima jasad warga Israel yang tewas dalam pengeboman itu, hari Jumat pagi waktu setempat tiba di Bandara Ben Gurion, Tel Aviv. Mereka akan dikuburkan hari ini.
Kelimanya diidentifikasi sebagai Kochava Shriki (44) yang sedang hamil dan Yitzhik Kolengi, Amir Menashe, Elior Priess, dan Maor Harush yang semuanya berumur 20-an tahun. Lebih dari 30 orang lainnya mengalami luka-luka dalam insiden itu, tiga di antaranya serius.
Rekaman CCTV bandara yang dirilis otoritas Bulgaria memperlihatkan seorang pria berkulit putih dengan rambut gondrong berpakaian layaknya turis, tampak membawa ransel dan tas laptop.
Menteri Dalam Negeri Bulgaria Tsvetan Tsvetanov mengatakan, pria tersebut tampak berumur 26 tahun. Dia membawa SIM palsu dari negara bagian Michigan, Amerika Serikat. Penyidik telah mengambil sidik jari mayat pengebom bunuh diri dan sedang mencoba menemukan DNA yang cocok.
(ita/nrl)










































