Sekjen PBB Imbau Pilpres Mesir Berlangsung Damai

Sekjen PBB Imbau Pilpres Mesir Berlangsung Damai

- detikNews
Sabtu, 16 Jun 2012 09:29 WIB
Sekjen PBB Imbau Pilpres Mesir Berlangsung Damai
Kairo, - Hari ini, rakyat Mesir akan memilih secara langsung pengganti Hosni Mubarak dalam pemilihan presiden (pilpres) putaran kedua. Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengimbau agar pilpres putaran kedua ini berjalan dengan damai, tanpa konflik.

Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon, menitikberatkan dampak dari putusan Mahkamah Agung (MA) soal Undang-undang Pemilu Parlemen, yang salah satunya memperbolehkan kandidat capres Ahmad Shafiq yang merupakan seorang militer dan mantan perdana menteri era Hosni Mubarak, untuk ikut serta dalam pilpres kali ini. Putusan tersebut memicu banyak perdebatan dan protes dari beragam kalangan.

"Sekjen PBB berharap agar pemilihan presiden putaran terakhir ini berlangsung dengan penuh kedamaian dan terbuka," ujar juru bicara PBB, Martin Nesirky, seperti dilansir oleh AFP, Sabtu (16/6/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pilpres putaran kedua ini, rakyat akan memilih antara seorang capres simbol era Mubarak atau capres Islami. Kedua capres adalah mantan perdana menteri Mesir, Ahmed Shafiq dan Mohammed Mursi dari Ikhwanul Muslimin, gerakan yang bersumpah akan mempertahankan tujuan perlawanan rakyat yang berhasil menggulingkan Mubarak.

"Pilpres ini menjadi bagian penting dari transisi pemerintahan menuju ke demokrasi yang lebih baik bagi rakyat Mesir, yang selama ini telah berjuang dengan sabar dan berani," tandasnya.

Perlu diketahui bahwa dalam putaran pertama pilpres, Mursi berada di urutan kedua dengan meraih 24,7 persen suara. Sementara rivalnya, Shafiq mendapatkan 23,6 persen suara. Dalam putaran pertama pada Mei lalu, ada 13 kandidat yang bersaing untuk terpilih sebagai pengganti Mubarak.

Pilpres putara kedua ini membuat rakyat Mesir terbelah antara mereka yang takut atas kembalinya rezim lama di bawah kepresidenan Shafiq serta mereka yang ingin menjauhkan agama dari politik. Juga mereka yang menuding Ikhwanul Muslimin -- yang telah mendominasi parlemen -- memonopoli kekuasaan sejak revoluasi tahun 2011 lalu.

Pilihan yang sulit ini menyebabkan banyaknya seruan untuk melakukan boikot dalam putaran kedua pilpres ini. Sebelumnya seruan boikot ini tidak dihiraukan banyak warga dalam pemilihan putaran pertama. Kini, para aktivis terkemuka menyerukan sekitar 50 juta pemilih terdaftar untuk abstain atau mengosongkan kartu suara mereka.

(nvc/vit)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads