Konflik di Suriah tiada berkesudahan. Menteri Luar Negeri (Menlu) Prancis Alain Juppe pun melontarkan ancaman keras terhadap Suriah. Juppe mengingatkan kemungkinan aksi militer untuk menghentikan krisis Suriah yang telah berlangsung setahun itu.
Sebelumnya, utusan PBB-Arab Kofi Annan telah menyerukan untuk secepatnya mengerahkan tim pengamat berkekuatan 300 orang ke Suriah. Rencana ini telah disetujui Dewan Keamanan PBB.
Juppe pun sependapat dengan Annan. Dikatakan Juppe, tanpa gerakan yang cepat, komunitas internasional harus bergerak untuk mengambil langkah lain sesuai Bab Tujuh Piagam PBB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rezim Damaskus tidak menghargai komitmen yang dibuatnya. Represi terus berlangsung. Para pengamat tak bisa bekerja di lapangan. Ini tak bisa berlangsung selamanya," tegas Juppe usai bertemu anggota oposisi Suriah di Paris, Prancis.
"Jika misi PBB tidak berhasil, kita tak bisa terus membiarkan pembangkangan rezim dan komunitas internasional harus bergerak untuk menghentikan tragedi ini," tandas Juppe.
Sedikitnya 27 warga sipil tewas di berbagai wilayah Suriah pada Rabu, 25 April kemarin. Menurut kelompok HAM Suriah, Syrian Observatory for Human Rights, total 300 orang telah tewas sejak gencatan senjata diberlakukan di Suriah pada 12 April lalu. Namun menurut PBB, sekitar 9 ribu orang telah tewas di Rusia selama 1 tahun kekerasan yang dilancarkan militer Suriah terhadap para demonstran antipemerintah.
(ita/nrl)











































