Bentrok berdarah tersebut terjadi di Jalan Mohammed Mahmud, persis di dekat Lapangan Tahrir, pusat aksi demonstrasi besar-besaran selama lima hari terakhir.
Menurut Shadi al-Naggar, seorang dokter di rumah sakit darurat Omar Makram seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (23/11/2011), tiga orang tewas dalam bentrokan tersebut.
Sebelumnya pemerintah Mesir menyatakan lebih dari 30 orang tewas dalam bentrokan antara aparat dan demonstran dalam beberapa hari terakhir. Sekitar 2 ribu orang lainnya luka-luka dalam peristiwa tersebut.
Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyerukan penyelidikan independen atas kematian para demonstran tersebut.
"Saya menyerukan otoritas Mesir untuk menghentikan penggunaan kekerasan yang jelas-jelas berlebihan terhadap para demonstran di Lapangan Tahrir dan tempat lainnya di negara tersebut, termasuk penggunaan gas air mata, peluru karet dan amunisi asli yang tidak semestinya," cetus Navi Pillay, Komisioner Tinggi HAM PBB.
"Beberapa foto yang muncul mengenai Tahrir, termasuk pemukulan brutal para demonstran yang sudah tunduk, sangat mengejutkan, begitu pula laporan tentang para demonstran tak bersenjata yang ditembak di kepala," kata Pillay.
Hari ini ribuan demonstran kembali membanjiri Lapangan Tahrir untuk menuntut dihentikannya kepemimpinan militer di negara itu. Warga terus berdemo meski sebelumnya pemimpin interim Mesir telah berjanji akan menyerahkan kekuasaan ke presiden terpilih pada pertengahan 2012 mendatang.
(ita/ita)











































