Saif al-Islam mengenakan jubah coklat, surban, penutup muka dan sendal terbuka seperti tipikal suku Tuareg, pada saat ditangkap. Hal ini cukup kontras mengingat Saif gemar mengenakan pakaian yang rapi dan kasual.
Sang pilot pesawat, Abdullah al-Mehdi berbicara pada Saif seperti ayah pada anaknya. "Seperti anak kecil. Aku bicara dengannya menganggap ia sebagai anak kecil," tutur Mehdi seperti dilansir dari Reuters, Minggu (20/11/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mehdi bersama dua kru pesawat lainnya di kokpit terbang dengan navigasi sederhana di atas jalan tandus, bersama perangkat manual dan bantuan sesekali dari GPS baru yang dijepit di kaca depan.
Wartawan Reuters yang ikut dalam pesawat itu melihat sesekali Saif menengok kiri-kanan dan menjulurkan lehernya memandangi tanah yang dulu pernah ia kuasai. Tak lama kemudian, ia memegang penutup mulutnya, pertanda ia ingin menyampaikan sesuatu kepada penjaga.
Reuters sempat menangkap tatapan mata Saif selama beberapa kali, tapi dalam setiap kesempatan tersebut ia selalu membuang muka. Lantas Saif pun meminta meminta botol berisi air yang berada pada ransel Reuters. Pembantu Saif yang juga ditangkap juga meminta air, namun tidak bicara.
Pesawat langsung diserbu ratusan orang sesaat setelah mendarat di Kota Zintan, di kawasan pegunungan Nafusa. Beberapa dari mereka bersorak, lainnya benar-benar marah, dan banyak yang berteriak 'Allahu Akbar!'
Beberapa dari mereka memegang handphone dan mengintip ke jendela-jendela pesawat, berharap bisa menangkap foto orang yang paling dicari di Libya. Lainnya menunggu pintu terbuka, seperti berharap melihat sesuatu yang spektakuler dari balik pintu.
Ketika para pembantunya jelas terlihat gugup, meringkuk bersama, Saif yang disebut-sebut sebagai pengganti ayahnya ini terlihat tenang. Ia duduk dan menunggu. Pesawat mendarat mulus, para tawanan saling bicara pelan kepada rekan dan penjaga.
Saat Reuters bertanya tentang pernyataan Pengadilan HAM Internasional di Den Haag, bahwa Saif telah berhubungan melalui perantara, Saif sepertinya tersinggung. "Itu semua bohong, saya belum pernah berhubungan dengan mereka," tukas Saif.
Setelah lebih dari sejam setelah mendarat, para pemberontak memutuskan untuk melepaskan 4 tawanan lainnya. Sementara Saif tetap di kursinya, duduk sendiri di belakang, diam dan seperti terasing.
Setelah berjam-jam di dalam pesawat yang sudah mendarat, massa masih mengerubungi landas pacu. Penjaga yang mengawal Saif mengatakan sudah saatnya Reuters turun dari pesawat.
Saat turun dari pesawat, Reuters lantas bertanya pada Saif, "Apakah Anda baik-baik saja?".
"Ya," jawab Saif tegas sambil menatap wajah Reuters.
Saat Reuters menunjuk tangan Saif yang terluka, dia berkata, "Pasukan udara, pasukan udara".
"NATO?" tanya Reuters yang disambut jawaban Saif, "Ya. Satu bulan yang lalu".
Reuters lantas berniat mendahului Saif, kemudian Saif pun memegang tangan Reuters. Belakangan, televisi memberitakan mengenai adegan itu sebagai permintaan tolong Saif agar dilindungi dari massa yang masih berkerumun dan kemungkinan ada yang menamparnya. Para penangkap lantas mendorong Saif ke mobil yang sudah disiapkan dan langsung meluncur untuk bersembunyi di suatu tempat.
(nwk/nwk)











































