Namun Joyce bersikeras bahwa dirinya harus mengambil keputusan yang sulit itu dikarenakan aksi mogok sebagian pekerja Qantas telah merugikan maskapai tersebut. Joyce pun mengecam serikat-serikat kerja yang memotori pemogokan itu karena telah membuat Qantas mulai ditinggalkan para pelanggannya.
"Mereka mencemari strategi dan nama kita," cetus Joyce. Menurutnya, hasil riset perusahaan menunjukkan adanya lonjakan jumlah orang yang berniat untuk tidak lagi menggunakan penerbangan Qantas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Para pelanggan kini mulai meninggalkan kita," imbuhnya seperti dilansir AFP, Sabtu (29/10/2011).
Joyce menegaskan, seluruh armada akan dikandangkan hingga tercapai penyelesaian atas masalah perselisihan pekerja.
Maskapai Qantas memang tengah terpukul oleh serangkaian aksi mogok pekerjanya. Para pilot, teknisi, pekerja bagasi, dan lainnya terlibat dalam aksi mogok yang merugikan perusahaan sebesar 15 juta dolar Australia atau sekitar Rp 141 miliar lebih dalam seminggu. Total kerugian mencapai sekitar 68 juta dolar Australia atau sekitar Rp 639 miliar lebih.
Perselisihan serikat pekerja dengan manajemen Qantas berawal Agustus lalu setelah maskapai Australia itu mengumumkan restrukturisasi dan rencana perekrutan pegawai melalui pihak ketiga. Serikat pekerja menolak rencana itu dengan mengatakan hal itu akan menimbulkan banyak pemecatan
(ita/ita)











































