"Kami tak punya pekerjaan, tak punya uang. Kami dengar orang-orang lain mendapatkan barang-barang dengan gampang, jadi kenapa kami tidak?" cetus E.Nan, seorang pemuda di Hackney, kawasan multietnis di sebelah timur London.
Seorang profesor Inggris meyakini bahwa kerusuhan itu adalah soal kaum berpunya dan kaum papa. "Ini murni bukan soal ras, keyakinan dan kelas," kata Profesor Mike Hardy, Executive Director lembaga Institute of Community Cohesion.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kerusuhan pada Senin, 8 Agustus malam waktu setempat, aksi penjarahan dan pembakaran terjadi di sejumlah titik. Para saksi mata mengaku melihat beberapa kasus pencurian mobil oleh sekelompok penjarah.
Kepolisian Metropolitan menyatakan telah menangkap 334 orang di London dan sekitar 100 orang di Birmingham. Huru-hara yang merupakan kerusuhan terparah di Inggris dalam beberapa dekade ini terjadi menyusul aksi damai memprotes kematian Mark Duggan, pria blasteran kulit hitam. Ayah empat anak itu tewas ditembak saat razia senjata oleh polisi pada Kamis, 4 Agustus lalu.
Suasana damai berubah rusuh ketika sekitar 300 hingga 500 orang berkumpul di sekitar kantor polisi Tottenham. Beberapa demonstran kemudian membuat bom molotov dan melemparkan ke barisan polisi. Yang lainnya melawan polisi dengan tongkat bisbol dan balok serta mencoba menyerbu kantor polisi.
Dalam beberapa jam, polisi antihuru-hara dan sejumlah polisi berkuda bentrok dengan ratusan perusuh. Kebakaran pun menjalar tak terkendali dan aksi penjarahan terjadi di mana-mana.
(ita/nrl)











































