"(Pemilu) itu bisa diadakan dalam 3 bulan. Maksimal akhir tahun ini, dan jaminan transparansi dapat dengan kehadiran pengawas internasional," kata Saif al-Islam pada harian Corriere della Sera, seperti diberitakan Reuters, Kamis (16/6/2011).
Dia menuturkan, pemilu bisa diawasi lembaga-lembaga seperti Uni Eropa, Uni Afrika, PBB, bahkan NATO, yang membombardir pasukan Khadafi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tidak ragu mayoritas rakyat Libya berdiri bersama ayah saya dan melihat para pemberontak sebagai fundamentalis Islam fanatik, teroris yang dibangkitkan luar negeri, tentara bayaran perintah dari (Presiden Perancis Nicolas) Sarkozy," bebernya.
Dia menyatakan, ayahnya siap menyingkir bila kalah pemilu, namun tidak akan pergi ke pengasingan.
"Dia tidak akan pernah meninggalkan Libya. Dia lahir di sini dan berniat meninggal dan dikubur di sini bersama orang-orang yang disayanginya," ungkapnya.
Pernyataan Saif al-Islam datang menyusul pertempuran yang terus terjadi antara pemberontak dan tentara yang loyal pada Khadafi, tanpa ada tanda-tanda terobosan untuk mengakhiri konflik.
(nrl/nvt)











































