Namun Saleh yang terluka akibat serangan artileri pemberontak ke istana kepresidenannya pekan lalu, bersikeras menolak untuk mundur meski terus didemo rakyatnya.
Padahal beberapa minggu terakhir, Saleh terus didesak oleh pemerintah Saudi untuk menyerahkan kekuasaan kepada Wakil Presiden Yaman Abd al-Rab Mansur al-Hadi. Ini merupakan bagian dari rencana transisi yang didukung Amerika Serikat.
Ketika Saleh harus diterbangkan ke sebuah rumah sakit di Riyadh, Saudi untuk mengobati luka-lukanya, pemerintah AS dan Saudi mendesak Mansur untuk mengambil alih kekuasaan dari Saleh. Namun Mansur menolak. Mansur bersikeras bahwa Saleh tak ada niat untuk mengundurkan diri.
"Yang mulia sedang dalam penyembuhan dan akan kembali ke tanah air dalam beberapa hari mendatang," kata Mansur usai pertemuan dengan dubes AS dan utusan-utusan senior Eropa seperti dilansir harian Telegraph, Selasa (7/6/2011).
Sejak Januari lalu aksi demonstrasi marak berlangsung di Yaman untuk menuntut pengunduran diri Saleh. Banyak korban jiwa telah berjatuhan selama pergolakan tersebut. Namun hingga kini, Saleh yang telah berkuasa selama 33 tahun itu menolak untuk mundur.
(ita/nrl)











































