Pengacara-pengacara ketujuh ilmuwan tersebut mengecam dakwaan yang dijatuhkan pada Kamis, 26 Mei waktu setempat. Alasannya, mustahil untuk memprediksi gempa.
Namun hakim Giuseppe Romano Gargarella seperti dilansir News.com.au, Jumat (27/5/2011) memerintahkan para terdakwa yang merupakan anggota komisi risiko tinggi pemerintah untuk hadir di persidangan yang akan digelar di Kota L'Aquila pada 20 September mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para penuntut memfokuskan kasus ini pada sebuah memo yang dikeluarkan setelah pertemuan komisi tersebut pada Maret 2009. Pertemuan itu digelar dikarenakan meningkatnya kekhawatiran akan aktivitas kegempaan saat itu. Dalam memo yang dikeluarkan sepekan sebelum gempa dahsyat itu, disebutkan bahwa para pakar telah menyimpulkan kalau gempa besar "mustahil" meski tak bisa dikesampingkan.
Para anggota komisi kemudian mempertegas pada media bahwa gempa-gempa kecil selama enam bulan itu bukan hal aneh di wilayah seismik tinggi dan tidak berarti bahwa gempa dahsyat akan terjadi.
Bahkan dalam sebuah wawancara, seorang anggota komisi Bernardo De Bernardis mengisyaratkan kalau warga tetap bisa rileks. "Tentu saja, tentu saja," ujarnya ketika ditanyai apakah warga bisa tetap rileks.
Menurut para penuntut dalam berkas dakwaan, opini yang meyakinkan seperti itu "membujuk para korban untuk tetap tinggal di rumah".
Namun menurut para pengacara terdakwa, mengingat gempa tak bisa diprediksi, maka anggapan bahwa komisi itu seharusnya mengeluarkan peringatan gempa tidaklah masuk akal.
Gempa berkekuatan 6,3 Skala Richter yang meluluhlantakkan Kota L'Aquila pada 2009 lalu menewaskan 308 orang. Ribuan korban yang selamat tinggal di tenda-tenda darurat atau tempat penampungan selama berbulan-bulan.
(ita/nrl)











































