Putra keempat Osama, Omar bin Laden, menceritakan dalam buku 'Growing Up Bin Laden' alasan mengapa ayahnya sampai meninggalkan Arab Saudi dan hengkang ke Sudan pada tahun 1991. Omar menulis buku ini bersama ibunya yang juga istri pertama Osama, Najwa Ghanem, serta penulis New York Times, Jean Sasson.
Usai mengklaim kemenangan di Afghanistan sekitar tahun 1988 dan pasukan Rusia ditarik dari Afghanistan pada akhir 1989, Osama memantau kondisi Timur Tengah, yaitu perang Irak dan Iran. Omar mengatakan ayahnya tak pernah menjadi pendukung Saddam karena kekuasaan diktator sekulernya di tanah Muslim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Omar menggambarkan ayahnya cemas dengan Saddam yang terjerat utang karena perang dan tergoda oleh kekayaan negara tetangganya. Osama mulai mengatakan pemikiran pribadinya mengenai kemungkinan perilaku Saddam. Masjid dan kaset-kaset pun menjadi medianya.
Apa yang dilakukan Osama ini menimbulkan ketidaksenangan di Kerajaan Arab Saudi. Dan apa yang dikhawatirkan Osama menjadi kenyataan.
Pada Februari 1990, Saddam bangkrut dan menuntut Kuwait dan Arab Saudi melupakan pinjaman US$ 40 miliar yang dipinjamkan kepadanya untuk memerangi Khomeini dan Iran. Kuwait dan Arab Saudi menolak, Saddam makin agresif, menuntut tambahan pinjaman bebas bunga sebesar US$ 30 miliar.
Saddam menempatkan 100 ribu tentara di perbatasan Kuwait. Raja Fahd berinisiatif mengadakan pertemuan darurat di Jeddah, Juli 1990. Tak ada hasil. Pada Agustus 1990, pasukan Saddam menginvasi Kuwait.
"Saddam akan menyerang Arab Saudi karena memiliki ladang minyak di provinsi sebelah timur. Ini akan segera terjadi begitu pasukan militernya telah kuat mencengkeram Kuwait," tutur Osama seperti dituliskan Omar pada halaman 135.
Osama yang masih memiliki pengikut 12 ribu tentara Mujahidin, veteran perang Afghanistan, menawarkan kekuatan itu untuk menjaga Arab Saudi dari kemungkinan serangan oleh pasukan Saddam. Osama mendekati petinggi Kerajaan Arab Saudi.
"Keluarga Bin Laden mendukung keluarga kerajaan. Ayahku sendiri adalah kawan terpercaya raja pertama kita, kini anak-anak ayahku mendukung anak-anak Abdul Aziz," tulis Omar mengenai pesan ayahnya.
Tak ada jawaban dari Kerajaan Arab Saudi. Hingga suatu hari, pemimpin AS datang ke Arab Saudi. Meminta akses militer AS di Arab Saudi, untuk mengeblok pasukan Saddam. Kerajaan Arab Saudi setuju, dan Osama mengetahuinya dari media massa di Arab Saudi.
"Apakah pasukan Saddam lebih kuat daripada adidaya Rusia? Tidak! Kita tidak butuh Amerika!" kata Osama dengan marah seperti ditulis Omar pada halaman 139.
Banyak yang tak bisa diterima Osama. Pasukan AS yang rata-rata Kristen atau Yahudi menginjakkan kaki di Arab Saudi yang dinilai tanah suci Islam. Satu lagi, Osama tak bisa menerima, laki-laki Arab dilindungi tentara-tentara wanita AS.
"Wanita! Melindungi lelaki Saudi," komentar Osama geram.
Kendati pasukan AS menang dalam Perang Teluk melawan pasukan Saddam, tentara AS tak kunjung meninggalkan Arab Saudi dan dikhawatirkan menularkan virus sekularisme. Sekitar 100 pegawai Osama, yang rata-rata bekas pejuang Mujahidin yang dipekerjakan di peternakan Osama di Jeddah, ditangkap kendati dilepaskan kembali.
Osama kecewa dan tiba-tiba menghilang meninggalkan Arab Saudi. Hingga kemudian Osama menelepon keluarganya, yang saat itu sudah beristri 4 dengan 14 anak, untuk keluar meninggalkan Arab Saudi pada tahun 1991.
"Najwa, jangan tinggalkan satu piring pun di Arab Saudi," instruksi Osama pada Najwa, di halaman 151.
(nwk/nrl)











































