Foto

Upaya Mitigasi Konflik Gajah Sumatera dan Manusia

ANTARA FOTO/Nova Wahyudi - detikNews
Sabtu, 28 Mei 2022 19:01 WIB

Sumatera - Sebuah tim dibentuk untuk mematau pergerakan gajah sumaterasebagai upaya mitigasi konflik antara manusia dengan satwa dilindungi.

Seekor gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) liar bernama Meisi yang berjenis kelamin betina dipasangkan kalung GPS (GPS Collar).

Tim yang terdiri dari personel BKSDA Sumatera Selatan, Lembaga Swadaya Masyarakat Perkumpulan Jejaring Hutan Satwa (PJHS), dokter hewan, mahout (pawang) dan penembak bius yang sudah berpengalaman terus bergerak mendekati kawanan gajah tersebut.

Seekor gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) liar bernama Meisi yang berjenis kelamin betina dipasangkan kalung GPS (GPS Collar).

Tim tersebut dibentuk untuk memasangkan kalung sistem pemosisian global (GPS Collar) kepada dua kelompok gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) liar yang sering melintas di kawasan konsesi perkebunan Hutan Tanaman Industri (HTI) di Simpang Heran, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.

Seekor gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) liar bernama Meisi yang berjenis kelamin betina dipasangkan kalung GPS (GPS Collar).

Pemasangan GPS collar dilakukan di kantong habitat Sugihan-Simpang Heran yang berada di area konsesi mitra pemasok APP Sinar Mas, PT Bumi Andalas Permai (BAP). Di dalam kawasan yang ditumbuhi tanaman akasia dan eukaliptus tersebut terdapat tiga kelompok gajah. Namun kali ini, pemasangan GPS collar hanya ditujukan untuk dua individu gajah yang hidup di dua kelompok gajah.

Seekor gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) liar bernama Meisi yang berjenis kelamin betina dipasangkan kalung GPS (GPS Collar).

Kedua gajah sumatra liar berjenis kelamin betina tersebut diberi nama Meilani (40 tahun) dengan berat 2.812 kg dan Meisi (30 tahun) dengan berat 2.545 kg. Selain pemasangan GPS Collar, dilakukan juga pengukuran lingkar badan, lingkar kaki termasuk pengambilan sampel darah pada kedua gajah tersebut.

Seekor gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) liar bernama Meisi yang berjenis kelamin betina dipasangkan kalung GPS (GPS Collar).

Kedua gajah betina ini dinilai memenuhi syarat untuk dipasangi GPS Collar karena sudah berusia lebih dari 25 tahun, tidak dalam kondisi mengandung dan menjadi gajah dominan di kelompoknya.

Seekor gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) liar bernama Meisi yang berjenis kelamin betina dipasangkan kalung GPS (GPS Collar).

Tujuan dari pemasangan ini adalah untuk memantau pergerakan kelompok gajah sumatra sebagai upaya mitigasi konflik antara manusia dengan satwa dilindungi. Kelompok gajah yang akan dipasang GPS collar tersebut merupakan kelompok yang pernah berkonflik dengan manusia pada Rabu (4/5/2020) lalu.

Seekor gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) liar bernama Meisi yang berjenis kelamin betina dipasangkan kalung GPS (GPS Collar).

Pemetaan wilayah jelajah gajah sangat diperlukan untuk mendeteksi kebiasaan gajah dalam menjelajahi wilayahnya. "Biasanya kelompok gajah akan melewati jalur yang sama ketika menjelajahi sebuah wilayah," kata Kepala BKSDA Sumatera Selatan Ujang Wisnu Barata.

Seekor gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) liar bernama Meisi yang berjenis kelamin betina dipasangkan kalung GPS (GPS Collar).

Ketika kelompok gajah itu masuk ke permukiman, warga bisa mendapatkan peringatan diri dari pihak berwenang agar lebih waspada dan menyiapkan diri ketika wilayahnya dilewati kelompok gajah. "Dengan begitu konflik antara manusia dan gajah bisa diminimalisasi," lanjut Ujang.

Seekor gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) liar bernama Meisi yang berjenis kelamin betina dipasangkan kalung GPS (GPS Collar).

Tidak hanya masyarakat, perusahaan yang area konsesinya dilalui kawanan gajah liar pun bisa memanfaatkan pemasangan GPS collar ini sehingga dalam pengembangan perusahaan tidak bersenggolan dengan kawasan jelajah gajah.

Seekor gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) liar bernama Meisi yang berjenis kelamin betina dipasangkan kalung GPS (GPS Collar).

Namun pemasangan GPS collar perlu disosialisasikan kepada masyarakat bahwa pemasangan tersebut bukan untuk menyelesaikan konflik. Jangan sampai masyarakat berpikir jika sudah dipasang GPS Collar maka konflik sudah selesai. "GPS collar bukan remot untuk mengendalikan gajah. Tapi untuk memberikan early warning kepada masyarakat," tutup Ketua Forum Komunikasi Mahout Indonesia Nazaruddin.

Upaya Mitigasi Konflik Gajah Sumatera dan Manusia
Upaya Mitigasi Konflik Gajah Sumatera dan Manusia
Upaya Mitigasi Konflik Gajah Sumatera dan Manusia
Upaya Mitigasi Konflik Gajah Sumatera dan Manusia
Upaya Mitigasi Konflik Gajah Sumatera dan Manusia
Upaya Mitigasi Konflik Gajah Sumatera dan Manusia
Upaya Mitigasi Konflik Gajah Sumatera dan Manusia
Upaya Mitigasi Konflik Gajah Sumatera dan Manusia
Upaya Mitigasi Konflik Gajah Sumatera dan Manusia
Upaya Mitigasi Konflik Gajah Sumatera dan Manusia