Foto

Pasien COVID-19 di Afrika Berperang Melawan Stigma

AP Photo - detikNews
Minggu, 02 Agu 2020 17:18 WIB

Jakarta - Stigma terhadap pasien COVID-19 jadi persoalan tersendiri di Afrika. Stigma muncul karena minimnya informasi yang dapat diakses masyarakat terkait virus Corona.

Stigma terhadap pasien COVID-19 jadi persoalan tersendiri di Afrika. Stigma muncul karena minimnya informasi yang dapat diakses masyarakat terkait virus Corona.
Virus Corona menjadi pandemi global yang membuat berbagai negara di dunia, tak kecuali Afrika, terus berjibaku mengatasi penyebaran virus tersebut. Namun, tak hanya penyebaran virus, stigma yang dihadapi oleh para pasien COVID-19 di sejumlah negara di Afrika, juga turut menjadi persoalan tersendiri yang harus segera diatasi.
 
Stigma terhadap pasien COVID-19 jadi persoalan tersendiri di Afrika. Stigma muncul karena minimnya informasi yang dapat diakses masyarakat terkait virus Corona.
Jimmy Spire Ssentongo dapat kembali beraktivitas usai melakukan karantina selama 23 hari (lebih lama dari waktu karantina yang dibutuhkan yakni 14 hingga 21 hari). Dilansir dari AP, Ssentongo dapat kembali beraktivitas sebagian karena kartuun yang digambarnya. Kartun buatannya itu menggambarkan seorang tahanan yang memohon pembebasan setelah beberapa kali melakukan tes dan menunjukkan hasil negatif, sementara seorang menteri kesehatan menuntut untuk mengetahui dimana tahanan tersebut menyembunyikan virus itu.
Stigma terhadap pasien COVID-19 jadi persoalan tersendiri di Afrika. Stigma muncul karena minimnya informasi yang dapat diakses masyarakat terkait virus Corona.
Dalam kartun tersebut, Ssentongo, kartunis surat kabar Pengamat Uganda yang sempat dikarantina setelah dirinya kembali dari Inggris pada bulan Maret lalu, berpandangan bahwa seseorang yang terjangkit virus dinilai sebagai hal yang berbahaya sehingga diperlukan sejumlah upaya untuk melindungi masyarakat dari mereka yang terinfeksi virus tersebut.
 
Stigma terhadap pasien COVID-19 jadi persoalan tersendiri di Afrika. Stigma muncul karena minimnya informasi yang dapat diakses masyarakat terkait virus Corona.
Dilansir dari AP, ketakutan yang digambarkan Ssentongo dalam kartunnya tersebut merupakan indikasi stigma berbahaya yang bermunculan setelah virus Corona mulai merebak di Afrika. Stigma itu pun muncul sebagian karena didorong oleh aturan karantina yang keras dan kadang sewenang-wenang. Sementara minimnya akses informasi terkait virus tersebut juga turut memberikan sumbangsih munculnya stigma kepada mereka yang terinfeksi virus itu.
Stigma terhadap pasien COVID-19 jadi persoalan tersendiri di Afrika. Stigma muncul karena minimnya informasi yang dapat diakses masyarakat terkait virus Corona.
Mengacu pada AP, stigma semacam itu sesungguhnya tidak hanya ditemukan di Afrika, sejumlah pasien di beberapa negara lainnya juga turut mengalami rasa takut dan khawatir bila ketahuan menderita COVID-19. Meski begitu, pengujian sampel dengan alat yang terbatas serta masih banyaknya tenaga medis yang bekerja dengan APD terbatas membuat virus Corona di Afrika menjadi sulit untuk dikendalikan penyebarannya.
 
Stigma terhadap pasien COVID-19 jadi persoalan tersendiri di Afrika. Stigma muncul karena minimnya informasi yang dapat diakses masyarakat terkait virus Corona.
Dilansir dari AP, Salim Abdool Karim, seorang epidemiologi yang mengepalai komite penasihat menteri COVID-19 di Afrika Selatan, mengatakan pada WHO bahwa sejumlah orang yang dirawat di awal pandemi ini merebak di Afrika mendapat perlakuan seperti di awal epidemi HIV melanda kawasan tersebut. Sekitar tahun 1990-an, saat HIV mulai merebak di Afrika, orang dengan HIV kerap dijauhi oleh keluarga mereka sendiri, serta kesulitan untuk mendapatkan perawatan karena ditolak oleh sejumlah petugas kesehatan.
Stigma terhadap pasien COVID-19 jadi persoalan tersendiri di Afrika. Stigma muncul karena minimnya informasi yang dapat diakses masyarakat terkait virus Corona.
Karim pun mengatakan bahwa kini beberapa orang memilih untuk menolak melakukan test terkait viru Corona. Pasalnya bila mereka melakukan tes, mereka khawatir akan dikucilkan.
 
Stigma terhadap pasien COVID-19 jadi persoalan tersendiri di Afrika. Stigma muncul karena minimnya informasi yang dapat diakses masyarakat terkait virus Corona.
Di Kenya, orang-orang yang dikarantina melaporkan mendapatkan perlakuan yang buruk dan diskriminasi. Dilansir dari AP, menurut laporan Human Rights Watch pada bulan Mei lalu, di salah satu fasilitas karantina, orang-orang di dalam itu mengatakan uang mereka ditolak oleh staf dan masyarakat sekitar saat hendak membeli makanan. Di tempat lain, staf dapur terkadang menolak unutk melayani mereka dan meminta pegawai keamanan untuk membawa makanan.
 
Stigma terhadap pasien COVID-19 jadi persoalan tersendiri di Afrika. Stigma muncul karena minimnya informasi yang dapat diakses masyarakat terkait virus Corona.
Perlakuan yang buruk dan diskriminasi tersebut mendapat perhatian dari sejumlah kelompok kemanusiaan. Mereka memperingatkan bahwa stigma terhadap orang-orang yang terinfeksi virus Corona dapat menghambat upaya untuk menanggulangi pandemi tersebut di kawasan Afrika. Sejumlah pihak pun terus berupaya untuk memberikan edukasi serta pemahanan bahwa orang yang terinfeksi virus Corona, maupun para tenaga medis maupun petugas lain yang berhubungan dengan upaya untuk mengatasi virus tersebut bukanlah sebuah aib maupun kutukan. Informasi yang tepat dan menyeluruh dapat menjadi cara untuk mengatasi stigma yang masih membayangi para pasien maupun mereka yang bekerja garda terdepan dalam melawan COVID-19 di Afrika.
Pasien COVID-19 di Afrika Berperang Melawan Stigma
Pasien COVID-19 di Afrika Berperang Melawan Stigma
Pasien COVID-19 di Afrika Berperang Melawan Stigma
Pasien COVID-19 di Afrika Berperang Melawan Stigma
Pasien COVID-19 di Afrika Berperang Melawan Stigma
Pasien COVID-19 di Afrika Berperang Melawan Stigma
Pasien COVID-19 di Afrika Berperang Melawan Stigma
Pasien COVID-19 di Afrika Berperang Melawan Stigma
Pasien COVID-19 di Afrika Berperang Melawan Stigma