Stadion Neom untuk Piala Dunia 2034 Terancam Batal Dibangun

Stadion Neom untuk Piala Dunia 2034 Terancam Batal Dibangun

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Sabtu, 10 Okt 2026 18:51 WIB
Stadion Neom, salah satu stadion yang direncanakan untuk Piala Dunia 2034, kemungkinan besar tidak akan dibangun (Balkis Press/ABACAPRESS/IMAGO)
Stadion Neom, salah satu stadion yang direncanakan untuk Piala Dunia 2034, kemungkinan besar tidak akan dibangun (Balkis Press/ABACAPRESS/IMAGO)
Riyadh -

Proyek itu pernah disebut sebagai "stadion paling unik di dunia" dan menjadi pilar utama rencana Arab Saudi menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034. Namun kini Stadion Neom, yang merupakan bagian dari proyek ambisius kota sepanjang 170 kilometer di tengah gurun pasir yang dikenal sebagai The Line, tampaknya akan dibatalkan seiring dengan pemangkasan besar-besaran terhadap proyek induknya.

Laporan Reuters menyebutkan bahwa stadion yang dalam dokumen penawaran Arab Saudi dirancang berada "350 meter di atas permukaan tanah" dengan "pemandangan memukau dan atap yang menyatu dengan kota itu sendiri" tidak akan lagi dibangun untuk turnamen tersebut. Stadion itu sebelumnya dijadwalkan menjadi tuan rumah babak perempat final dan sejumlah pertandingan lainnya.

Para pengamat kawasan Teluk sudah melihat sinyal ini jauh sebelumnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ketika saya berada di Arab Saudi pada Desember (2025) lalu, sudah banyak tanda bahwa seluruh proyek Neom sedang dipinggirkan atau malah ditinggalkan sama sekali," kata F. Gregory Gause III, pakar kawasan dari lembaga think tank Middle East Institute di Washington D.C., kepada DW.

"Saya melihat ini sebagai bagian dari evaluasi ulang secara umum terhadap kondisi fiskal mereka, baik dalam konteks pasar minyak sebelum perang saat ini maupun kerugian yang ditimbulkan perang itu. Mundurnya dari komitmen olahraga hanyalah bagian dari penilaian ulang yang lebih luas atas prioritas dalam situasi yang kini semakin sulit," kata Gause.

ADVERTISEMENT

Olahraga bukan lagi prioritas utama?

Gelombang besar investasi olahraga Arab Saudi, yang sempat mendatangkan pemain seperti Cristiano Ronaldo ke liga sepak bola lokal dan mendorong kerajaan itu masuk ke berbagai cabang olahraga, kini jauh melambat. Arab Saudi menarik pendanaan dari liga golf LIV Golf yang bernilai miliaran dolar, serta melepas sejumlah ajang snoker, tenis, dan rugbi. Kerajaan itu juga mundur dari rencana ambisius menjadi tuan rumah Kejuaraan Olahraga Musim Dingin Asia 2029 di Neom.

Olahraga sebelumnya menjadi bagian kunci dari Visi 2030 Arab Saudi, yang bertujuan mendiversifikasi perekonomian negara dari ketergantungan pada minyak dan meningkatkan pengaruh lunak kerajaan itu. Namun, Yasir Al-Rumayyan, Gubernur Dana Investasi Publik, yang juga memiliki klub Liga Premier Inggris Newcastle United, menyatakan awal tahun ini bahwa PIF tengah "mengevaluasi ulang prioritasnya" di tengah memanasnya situasi perang di kawasan tersebut.

"Dampak perang tidak hanya membuat rasionalisasi ekonomi semakin penting, tetapi juga mempercepat keinginan untuk meninjau ulang sejumlah proyek ini. Neom kini sedang dialihfungsikan sebagai pusat industri di Laut Merah, yang jelas menjadi jauh lebih mendesak sejak Selat Hormuz secara efektif tersumbat," kata Kristian Coates Ulrichsen, penulis buku Kingdom of Football: Saudi Arabia and the Remaking of World Soccer, kepada DW.

Antara Piala Dunia Qatar 2022 dan Arab Saudi 2034

Coates Ulrichsen melanjutkan, ada kesamaan yang jelas dengan Piala Dunia 2022 di Qatar, di mana rencana awal membangun 12 stadion pada akhirnya hanya menghasilkan delapan stadion yang digunakan di turnamen. Gelombang pemberontakan Arab Spring datang tak lama setelah tawaran Qatar diterima FIFA. Meskipun tidak berdampak langsung pada negara itu, pergolakan tersebut mendestabilisasi kawasan secara politik maupun ekonomi.

Hingga kini, otoritas penyelenggara Piala Dunia Arab Saudi, Kementerian Olahraga, maupun FIFA belum merespons pertanyaan DW soal apakah jumlah stadion untuk Piala Dunia 2034 yang berencana menampilkan 64 tim bisa kembali berkurang dari 15 yang direncanakan.

"Kita melihat hal yang sama jelas terjadi dengan Arab Saudi sekarang," kata Coates Ulrichsen, yang juga merupakan peneliti senior urusan Asia Barat di Universitas Rice, Amerika Serikat.

"(Presiden FIFA) Gianni Infantino mengumumkan Arab Saudi sebagai satu-satunya penawar pada 4 Oktober 2023. Tiga hari kemudian adalah 7 Oktober, sehingga dalam tiga hari, kawasan itu praktis sudah bergolak."

Sejak saat itu, perang Israel-AS melawan Iran pecah, sementara serangan Houthi terus menghantam Arab Saudi sebagai bagian dari konflik di Yaman. Artinya, "seluruh siklus penyelenggaraan ini berlangsung di tengah latar belakang ketidakpastian yang cukup besar dan ketegangan nyata," kata Coates Ulrichsen.

Piala Dunia tetap jadi prioritas Arab Saudi?

Meski ruang lingkup dan biayanya mungkin menyusut, menurut Gause, komitmen Arab Saudi yang melemah terhadap olahraga tampaknya tidak akan berlaku sekuat itu untuk ajang olahraga terbesar di dunia.

"Menurut saya, ini tetap menjadi prioritas utama, karena kepentingannya yang global dan karena Arab Saudi ingin tampil setidaknya setara, atau bahkan melampaui, penyelenggaraan Qatar sebelumnya," katanya.

Hubungan Arab Saudi dan Qatar telah membaik sejak kesepakatan pada 2021, tetapi keduanya tetap bersaing sebagai rival di kawasan tersebut. Coates Ulrichsen setuju bahwa rivalitas inilah yang akan mendorong semangat tuan rumah 2034 itu.

Dengan demikian, turnamen 2034 kemungkinan besar masih akan menjadi ajang kelas tinggi, dengan Arab Saudi membangun sebagian besar stadion dari nol. Namun, kata Coates Ulrichsen, wujudnya mungkin akan berbeda dari yang semula direncanakan.

Piala Teluk jadi sinyal positif, Piala Asia jadi ujian awal

"Fakta bahwa Arab Saudi setidaknya berhasil menjadi tuan rumah ajang besar dengan 60.000 penonton memenuhi stadion tanpa gangguan keamanan apa pun, yakni final Piala Teluk yang mereka menangkan pekan ini, adalah pertanda baik," kata Coates Ulrichsen.

Pakar kawasan itu berpendapat bahwa lebih banyak pertandingan kemungkinan akan dipusatkan di dua kota terbesar Arab Saudi, yaitu Riyadh dan Jeddah. Hal ini bisa berarti pengurangan sejumlah lokasi pertandingan di wilayah pesisir timur seperti Al Khobar atau Al Ahsa, yang terpisah dari Iran oleh Teluk Persia termasuk Selat Hormuz, dan bisa ditinjau ulang tergantung pada situasi politik yang berkembang.

Arab Saudi akan menjadi tuan rumah Piala Asia sepak bola pada Januari 2027 mendatang, yang menurut Coates Ulrichsen akan menjadi "uji coba awal apakah turnamen besar yang berlangsung berminggu-minggu itu layak digelar dalam kondisi seperti ini."

Dengan hampir delapan tahun tersisa sebelum Piala Dunia, situasi politik dan ekonomi di negara itu sulit diprediksi. Meski batalnya Stadion Neom dan mundurnya Arab Saudi dari berbagai komitmen olahraga memunculkan pertanyaan serius soal keseriusan mereka, tampaknya perhelatan Piala Dunia tetap akan berlangsung, kendati mungkin tidak persis seperti yang pernah dijanjikan.

Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Muhammad Hanafi

Editor: Yuniman Farid

Tonton juga video "Arab Saudi Pamer Desain Stadion 92 Ribu Kursi untuk Piala Dunia 2034"

(nvc/nvc)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini