×
Ad

Desakan Berunding dengan Rusia Menguat, Ukraina Kelelahan Berperang?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 09 Okt 2026 14:03 WIB
Warga sipil Ukraina mencari perlindungan dari serangan rudal Rusia di stasiun kereta bawah tanah di Kyiv, 30 Juli 2026 (Alina Smutko/REUTERS)
Kyiv -

Tiga politikus Ukraina ternama menyerukan agar perang diakhiri melalui perundingan dengan Rusia. Salah satunya adalah anggota parlemen Oleksij Hontscharenko dari partai "Solidaritas Eropa", yang dalam media sosial menyatakan: "Realitas saat ini adalah: Kami kalah dalam perang. Kami kehilangan tak terhitung banyaknya manusia. Kami kekurangan uang, bukan hanya untuk membiayai perang, tetapi bahkan untuk menjaga negara tetap berjalan."

Hontscharenko mengusulkan agar Kyiv berunding dengan Moskow mengenai netralitas dan pengabaian keanggotaan NATO, pencabutan sanksi, status bahasa dan gereja Rusia di Ukraina, serta Donbas: "Menurut saya, mati bersama seluruh negeri demi keanggotaan NATO adalah sesuatu yang absurd."

Danylo Hetmanzew adalah anggota partai berkuasa "Pelayan Rakyat" dan ketua komite keuangan parlemen. Pada hari yang sama, dia menulis di media sosial bahwa "mengaktifkan perundingan dan perdamaian harus menjadi prioritas utama kita". Ketentuan perdamaian final, menurutnya, harus disahkan melalui referendum.

Sementara itu, Wali Kota Kharkiv Ihor Terechow mengkritik logika politik yang menganggap perang sebagai satu-satunya pilihan. Namun, dia sekaligus menegaskan bahwa perdamaian harus bertumpu pada kemampuan pertahanan dan jaminan konkret dari negara-negara mitra.

Apa kata presiden dan oposisi?

Peringatan dari Presiden Volodymyr Zelensky segera datang. Dia mengingatkan para wakil rakyat bahwa mereka turut bertanggung jawab menjaga persatuan di dalam negeri dan tidak boleh menebar kepanikan. "Betapapun sulitnya keadaan bagi kita, kita tidak boleh tunduk kepada Putin dan Rusia, karena itu akan menghancurkan Ukraina," ujar presiden Ukraina tersebut.

Fraksi oposisi di parlemen, "Solidaritas Eropa", akhirnya mengeluarkan Hontscharenko dari barisan mereka. "Posisinya mengenai berakhirnya perang dan arsitektur keamanan Ukraina di masa depan berbeda dari posisi 'Solidaritas Eropa' dan prinsip-prinsip ideologisnya," kata fraksi tersebut.

Nilai-nilai yang tidak dapat dinegosiasikan, menurut mereka, mencakup tentara yang kuat, bahasa Ukraina sebagai bahasa resmi, gereja Ortodoks Ukraina nasional yang independen, serta keanggotaan Uni Eropa dan NATO.

Tes jelang pemilu?

Waktu munculnya seruan perdamaian itu dinilai bukan kebetulan oleh Profesor Oleksij Haran dari Akademi Kyiv-Mohyla. "Musim dingin yang berat akan datang, masyarakat kelelahan, dan semua orang berbicara tentang perundingan—baik para pejabat Ukraina maupun Presiden Amerika Serikat Donald Trump," ujar ilmuwan politik itu dalam wawancara dengan DW.

Sejumlah politikus, kata dia, sudah tergesa-gesa memetik "hasil panen" untuk pemilu mendatang. Haran juga tidak menutup kemungkinan bahwa seruan tersebut merupakan "penjajakan politik" untuk mengukur reaksi masyarakat.

Ilmuwan politik dari "Pusat Analisis dan Strategi" Ukraina, Ihor Tschalenko, melihat pernyataan para politikus Ukraina itu terutama dalam kaitannya dengan kemungkinan perundingan di Abu Dhabi. Di sana, pertemuan teknis trilateral disebut akan membahas gencatan senjata sektoral dan pengaktifan rencana perdamaian Trump.

Menurut Tschalenko, beberapa politikus tersebut memiliki hubungan baik dengan tim presiden Amerika Serikat. Trump berkepentingan memperoleh hasil cepat sebelum pemilihan anggota Kongres pada 3 November. "Semua ini terutama bertujuan mengorganisasi pertemuan semacam itu untuk menarik Rusia ke meja perundingan," katanya.

Pada saat yang sama, pernyataan para politikus itu digunakan untuk menguji sejauh mana publik siap menerima kompromi.

Bagaimana pandangan warga Ukraina?

Menurut survei Institut Internasional Sosiologi Kyiv (KIIS) pada pertengahan September, 75 persen warga Ukraina mendukung perundingan dengan Rusia untuk mengakhiri perang, sementara 21 persen menolaknya. KIIS menekankan bahwa pertanyaan tersebut hanya menyangkut kemungkinan perundingan, bukan konsesi.

Sebanyak 69 persen mendukung gencatan senjata segera di sepanjang garis depan saat ini, dengan syarat Ukraina tidak mengakui wilayah pendudukan sebagai wilayah Rusia, terus memperkuat tentaranya, serta mengupayakan pendekatan dengan Uni Eropa dan NATO.

Sekitar 62 persen menyatakan siap menanggung perang selama diperlukan; di Kyiv angkanya bahkan mencapai 72 persen. Sebanyak 79 persen percaya Ukraina akan menang, meski proporsi mereka yang benar-benar yakin telah turun dari 60 menjadi 47 persen sejak akhir Juli.

"Pernyataan sejumlah politikus tidak mencerminkan pendapat mayoritas warga Ukraina," kata Anton Hruschezkyj dari KIIS. Namun, sebagian masyarakat bersedia menerima kapitulasi. Sekitar setahun lalu, sekitar 20 persen responden mendukung rencana perdamaian Rusia yang mencakup penarikan pasukan Ukraina dari Donbas dan demiliterisasi.

"Namun itu adalah minoritas," tegas sosiolog tersebut. Mayoritas bersikap pragmatis: terbuka terhadap kompromi sulit, tetapi tidak terhadap kapitulasi.

Apakah Rusia siap berunding?

Presiden Rusia Vladimir Putin baru-baru ini menolak usulan penghentian saling serang terhadap fasilitas energi dan kapal sipil sebagai sesuatu yang "tidak masuk akal". "Ketidaksiapan Rusia adalah fakta yang fundamental," kata ilmuwan politik Tschalenko.

Menurutnya, anggapan bahwa publik terbelah menjadi "kubu perang" dan "kubu perdamaian" dibuat-buat. "Tidak ada kelompok besar yang menginginkan perang abadi. Posisi Ukraina akan terbatas pada garis kontak dan jaminan keamanan, yang itu sendiri sudah merupakan konsesi, dan tidak mungkin ada konsesi yang lebih besar."

Profesor Haran juga menegaskan bahwa posisi Ukraina saat ini merupakan kompromi pahit. "Sekarang kita berbicara tentang pembekuan konflik. Itu saja sudah merupakan konsesi yang sangat besar," katanya. Mayoritas warga Ukraina memang bersedia dengan hal tersebut, tetapi tidak ada mayoritas yang mendukung penarikan pasukan dari Donbas atau pengakuan wilayah pendudukan sebagai wilayah Rusia.

Pernyataan semacam itu, menurutnya, justru merugikan. "Masalahnya bukan perundingan dan kompromi, melainkan bahwa Putin ingin membawa kita ke musim dingin yang sulit agar kita menyerah. Apa yang dikatakan Hontscharenko dan yang lain sekarang hanya memacu Putin," ujar Haran memperingatkan.

Bisakah skenario kelelahan berhasil?

Untuk mencapai tujuannya, Moskow mengandalkan serangan besar-besaran terhadap sektor energi Ukraina, pusat data, gudang-gudang dan jembatan di ibu kota Kyiv, serta industri logam, jelas ilmuwan politik Tschalenko. "Dengan cara ini, mereka ingin memperkuat lapisan masyarakat yang menuntut perang diakhiri dengan cara apa pun. Begitu perlawanan masyarakat melemah, mereka ingin menuntut konsesi yang lebih besar dari pemerintah Ukraina."

Anton Hruschezkyj mengingatkan bahwa suasana nyata masyarakat di jalan semakin berbeda dari apa yang terlihat di media sosial, tempat banyak bot beroperasi dan emosi dimainkan secara intens.

"Warga biasa jauh lebih tenang, bahkan dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan sulit. Kompromi yang bersedia diterima warga Ukraina tidak boleh berupa konsesi sepihak dan menyerupai kapitulasi Ukraina. Warga Ukraina ingin terus berjuang demi perdamaian yang riil."

Dari Bahasa Ukraina oleh Markian Ostaptschuk

Diadaptasi oleh Rizki Nugraha

Editor: Ayu Purwaningsih

width="1" height="1" />

Tonton juga video "Bus Jadi Sasaran Bom Rusia di Kramatorsk, 30 Orang Tewas"




(nvc/nvc)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork