×
Ad

Yaman Kembali Bergolak, Krisis Kemanusiaan Mengintai

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Sabtu, 26 Sep 2026 09:08 WIB
Seorang bocah bermain di kamp pengungsi sementara di Bani Omar, selata Taiz, 10 September 2026 (Marwan Abdullah Yahya Saeed Al-Shabi/Anadolu/picture alliance)
Sanaa -

Mohammed Musleh masih diliputi keterkejutan. Setelah Houthi merebut kota pelabuhan Mokha pada awal September, keluarganya terpaksa meninggalkan rumah tanpa sempat membawa barang-barang.

"Kami sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi sekarang," kata pria 46 tahun itu kepada DW. Istrinya, Muna, juga cemas karena keluarga mereka tak sempat membawa dokumen identitas pribadi. "Houthi menyuruh kami pergi, praktis saat itu juga. Kami tidak punya waktu untuk membawa apa pun," katanya.

Untuk sementara, keluarga bersama dua putri yang masih kecil itu tinggal di rumah kerabat di Aden, kota terbesar yang dikuasai pemerintah di Yaman selatan. "Kami mengatakan kepada anak-anak bahwa kami berharap segera bisa pulang," kata pasangan itu.

Rashad al-Alimi, Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden, badan pimpinan pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional, mengatakan perubahan di medan perang belakangan ini tidak akan mengubah tujuan pemerintah memulihkan kewenangan negara di seluruh negeri.

Namun, melihat kemajuan terbaru Houthi yang didukung Iran dan perluasan wilayah yang mereka kuasai di Yaman, kepulangan keluarga Musleh ke rumah mereka di Mokha tampaknya belum mungkin dalam waktu dekat.

Sejak akhir Juli, Houthi yang didukung Iran memperluas wilayah kekuasaannya dari bagian utara dan tengah negeri hingga sebagian besar pesisir Laut Merah Yaman. Mereka merebut wilayah dari pasukan pemerintah yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi. Konflik terus meningkat, disertai saling serang rudal dan drone antara Houthi dan Arab Saudi.

Houthi kini bergerak lebih jauh ke dalam negeri menuju Pegunungan Kahboub yang strategis. Pegunungan itu penting karena mengawasi kawasan di sekitar Selat Bab el-Mandeb, jalur air penting yang selama ini menjadi rute alternatif bagi ekspor minyak Arab Saudi di tengah blokade Iran terhadap Selat Hormuz yang berada di dekatnya.

Bertahan atau pergi?

Pegunungan tersebut juga hanya sekitar 40 kilometer (25 mil) di barat daya Taiz, yang berada di bawah kendali pemerintah.

Fatima, seorang ibu di Taiz, mengatakan kepada anak-anaknya bahwa suara tembakan adalah suara kembang api. "Kami takut dan juga khawatir karena gas sudah sulit didapat dan harga-harga naik. Para pedagang tidak lagi datang ke Taiz," katanya kepada DW. Dia meminta nama lengkapnya tidak dipublikasikan karena khawatir akan pembalasan.

Rania dan anak-anaknya juga memutuskan untuk tetap tinggal di rumah di Taiz untuk sementara. "Namun kami takut jika Houthi memperketat cengkeramannya atas Kota Taiz, kami akan kembali hidup dalam pengepungan," katanya. Dia juga tidak ingin nama depannya disebut dan masih mengingat jelas "blokade yang mencekik pada 2015 dan 2016, ketika makanan dan barang-barang tidak bisa masuk".

Perang antara kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran melawan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi, sempat pecah pada 2014 dan sebagian besar berakhir setelah gencatan senjata yang dimediasi PBB pada 2022. Saat itu, pasukan Houthi memblokade sebagian besar jalur menuju Kota Taiz yang dikuasai pemerintah selama hampir dua tahun. Blokade bahan pangan, suplai medis, dan bantuan kemanusiaan membuat harga melonjak dan menempatkan warga di ambang wabah kelaparan.

Pengungsi terus bertambah

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pekan ini sedikitnya 674 orang tewas dan 2.998 lainnya terluka sejak pertempuran meningkat pada Agustus. Namun, karena bentrokan masih berlangsung, jumlah korban tewas kemungkinan sudah lebih tinggi.

Konflik tersebut juga menyebabkan lebih dari 132 ribu orang mengungsi, menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM). Dalam beberapa hari terakhir, lebih dari 90 ribu orang mencari perlindungan di wilayah Aden, Lahj, Abyan, dan Al Dhale'e, bahkan hingga Marib, kata Armen Yedgaryan, perwakilan badan pengungsi PBB di Yaman, pada Selasa (22/9).

Dia juga memperkirakan pertempuran yang kian sengit dapat memicu gelombang pengungsian baru. Semakin banyak orang diperkirakan akan melarikan diri ke Djibouti, Somalia, dan negara-negara lain, selain mengungsi ke wilayah lain di dalam Yaman.

"Kondisi para pengungsi semakin buruk ketika mereka tiba di lokasi-lokasi pengungsian yang sudah padat dan sangat membutuhkan tempat tinggal, makanan, air bersih, layanan kesehatan, serta perlindungan. Situasi ini menambah tekanan terhadap layanan dan infrastruktur yang sudah rapuh," katanya.

Bahkan sebelum eskalasi terbaru, lebih dari 5,2 juta orang telah mengungsi di dalam Yaman. Pertempuran yang kini berlangsung semakin memperparah krisis kemanusiaan yang sudah sangat buruk di negeri itu, kata badan pengungsi PBB.

Sekitar 22 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan, termasuk mereka yang mengungsi di dalam negeri serta sekitar 65 ribu pengungsi dan pencari suaka, terutama dari Somalia dan Ethiopia.

Pengungsi bantu pengungsi

"Saya berada di lokasi Al-Kud, sebuah kamp untuk pengungsi internal atau IDP, di wilayah Abyan pada Ahad," kata Alison Bottomley, penasihat advokasi Norwegian Refugee Council di Yaman. Dia menambahkan, "317 keluarga telah tiba sejak pertempuran dimulai, sehingga jumlah orang di sana meningkat dari 1.460 menjadi 2.629."

Namun, tidak ada dana untuk mendukung mereka. "Para pengungsi internal ini bertahan hidup semata-mata berkat kemurahan hati keluarga-keluarga pengungsi lainnya."

Kepada DW, dia mengatakan bertemu dengan Mustapha, seorang lelaki yang tujuh tahun lalu mengungsi dari kampung halamannya, Mawza, saat perang sebelumnya di Yaman. Sejak itu dia tinggal di lokasi pengungsian tersebut. "Dia mengatakan kepada kami bahwa dirinya menampung 22 keluarga di tempat tinggalnya, semuanya berasal dari kampung halamannya di Mawza. Bersama-sama, mereka menggunakan satu jamban. Ketika saya bertanya bagaimana mereka semua mendapatkan makanan, dia mengatakan mereka berbagi satu kali makan setiap dua hari."

Sementara itu, pemimpin Houthi Abdul-Malik al-Houthi merilis pesan video yang menyatakan bahwa warga Yaman di provinsi-provinsi barat dan selatan bukan sasaran mereka.

Namun, analis politik Yaman, Hisham Al-Omeisy, mengatakan pernyataan itu hanyalah kata-kata kosong.

"Bagi Houthi, serangan ini mungkin diukur dari berapa kilometer wilayah yang mereka kuasai dan berapa banyak daerah yang direbut. Namun bagi warga Yaman, ukurannya adalah rumah-rumah yang ditinggalkan, keluarga yang tercerai-berai, dan nyawa yang melayang," katanya kepada DW.

"Ada sesuatu yang sangat kejam dalam mengejar kemenangan militer sementara warga Yaman biasa sekali lagi dipaksa hidup dalam ketakutan, kelaparan, dan pengungsian," kata Al-Omeisy. Dia menambahkan, "garis-garis di peta mungkin berubah, tetapi darah, duka, dan kehidupan yang hancur di balik garis-garis itu adalah milik manusia nyata. Warga sipil Yaman tidak bisa terus diperlakukan sebagai korban sampingan dalam upaya Houthi merebut kekuasaan."

Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Rizki Nugraha

Editor: Yuniman Farid

width="1" height="1" />

Tonton juga video "Warga Yaman di Arab Saudi Tewas Akibat Pecahan Drone Houthi"




(nvc/nvc)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork