Perang Iran dan AI Jadi Sorotan Pemimpin Dunia di Sidang Umum PBB

Perang Iran dan AI Jadi Sorotan Pemimpin Dunia di Sidang Umum PBB

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 23 Sep 2026 17:37 WIB
Para pemimpin dunia masih memiliki banyak hal untuk dibahas saat Sidang Umum PBB memasuki hari kedua. Sidang tahunan tersebut berlangsung hingga 28 September (Charles Guerin/ABACA/picture alliance)
Para pemimpin dunia masih memiliki banyak hal untuk dibahas saat Sidang Umum PBB memasuki hari kedua. Sidang tahunan tersebut berlangsung hingga 28 September (Charles Guerin/ABACA/picture alliance)
New York -

Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, perkembangan akal imitasi (AI), serta perang Rusia-Ukraina menjadi sejumlah isu utama yang mendominasi hari kedua Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 pada Rabu (23/9).

Presiden Iran Masoud Pezeshkian dijadwalkan menyampaikan pidato untuk pertama kalinya sejak perang dengan Amerika Serikat dimulai pada Februari. Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy juga akan berpidato di hadapan Majelis Umum setelah bertemu Presiden AS Donald Trump pada Selasa (22/9).

Pada hari yang sama, para pemimpin industri teknologi, termasuk CEO OpenAI Sam Altman, CEO Anthropic Dario Amodei, dan CEO Hugging Face Clement Delangue, dijadwalkan menghadiri pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB mengenai AI.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Iran dan AS mencari jalan keluar dari perang

Pertemuan antara perwakilan AS dan Iran berlangsung di sela-sela sidang Majelis Umum. Trump mengatakan kepada wartawan bahwa pertemuan tersebut berlangsung sekitar tiga jam dan menyebutnya sebagai pertemuan yang "sangat baik" dan "sangat produktif".

Trump sebelumnya menggunakan pidatonya di Sidang Umum PBB untuk mengancam Iran. Ia mengatakan masih menghadapi pilihan antara kesepakatan damai dan penghancuran Republik Islam Iran.

ADVERTISEMENT

"Apakah akan tercapai kesepakatan dengan Iran yang memungkinkan mereka membangun kembali dan menciptakan negara yang jauh lebih besar dari sebelumnya, mungkin salah satu yang terbesar di Timur Tengah atau bahkan dunia? Atau apakah saya akan memusnahkan Republik Islam itu dan melakukannya dengan cepat," kata Trump.

Perang telah memasuki kebuntuan dan berdampak langsung terhadap negara-negara di kawasan serta perekonomian global. Arus minyak melalui Selat Hormuz juga terganggu akibat blokade.

Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani mengatakan krisis tersebut menunjukkan perlunya sistem keamanan kolektif regional. Menurutnya, situasi tersebut merupakan akumulasi dari penundaan penanganan krisis dan kebijakan yang tidak realistis.

"Di jantung situasi berbahaya yang kita saksikan terdapat ketiadaan sistem keamanan kolektif regional," kata Al Thani. Ia juga memperingatkan bahwa pembatasan jalur pelayaran di Selat Hormuz telah menjadikan "jalur kehidupan ekonomi global" sebagai alat tawar-menawar.

Menurut Al Thani, dampaknya tidak hanya terasa pada harga bahan bakar, tetapi juga pada sejumlah barang utama seperti makanan dan obat-obatan.

Inggris soroti disinformasi dan aturan AI

AI juga menjadi agenda utama pada hari kedua. Kehadiran para pemimpin perusahaan teknologi di Dewan Keamanan PBB berlangsung ketika kekhawatiran mengenai perkembangan AI semakin mendapat perhatian, termasuk dari dalam industri teknologi sendiri.

Perdana Menteri Kerajaan Serikat Britania Raya dan Irlandia Utara atau Inggris, Andy Burnham, dalam debutnya di debat Sidang Umum PBB menyerukan kerja sama internasional untuk menghadapi tantangan AI dan disinformasi. Ia mengatakan Inggris sedang memulihkan stabilitas dan membangun ekonomi yang lebih dinamis setelah periode turbulensi akibat Brexit.

Burnham juga menyoroti aktivitas disinformasi yang menurutnya dilakukan aktor-aktor yang berafiliasi dengan Rusia. Ia mengatakan aktor tersebut menggunakan bot, situs palsu dan artikel surat kabar yang dipalsukan, termasuk dengan memalsukan identitas 28 organisasi Inggris seperti universitas dan BBC.

"Agensi-agensi Rusia telah menggunakan segala cara yang mereka miliki untuk menyebarkan kebohongan dan disinformasi serta memanfaatkan ketakutan masyarakat," kata Burnham.

Ia juga mengatakan terdapat bukti bahwa Rusia berupaya mencampuri pemilihan umum Inggris pada 2019. Menurut Burnham, Kremlin menghabiskan sekitar 1,3 miliar poundsterling (sekitar Rp30,3 triliun) per tahun untuk menyebarkan disinformasi.

Sebagai respons, Burnham mengumumkan pembentukan National Centre for Information Defence untuk menghadapi disinformasi yang dinilai merugikan kepentingan Inggris.

Dalam isu AI, Burnham mengatakan standar global diperlukan karena keputusan terkait teknologi tersebut terlalu penting untuk diserahkan begitu saja. "Keputusan-keputusan mendasar mengenai teknologi ini terlalu penting untuk dibiarkan terjadi secara kebetulan," katanya.

Inggris, kata Burnham, akan berupaya meyakinkan negara-negara lain mengenai aturan transparansi dan akses terhadap model AI.

Trump sebelumnya menolak seruan untuk memperlambat pengembangan AI dan menyebutnya sebagai bagian dari "skema globalis". Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menyerukan pengembangan AI yang tidak bergantung pada Amerika Serikat maupun China.

"Saya tidak ingin siapa pun menjadi pengikut salah satu kekuatan besar. Sebaliknya, kita harus bersatu untuk membangun model AI terdepan yang bersifat open source," kata Macron.

Ukraina, Gaza dan krisis iklim

Ukraina kembali menjadi agenda diplomatik. Zelenskyy mengatakan setelah bertemu Trump bahwa kedua negara ingin perang berakhir sebelum musim dingin.

"Kami membahas langkah-langkah deeskalasi potensial yang dapat membuka jalan menuju diplomasi," kata Zelenskyy melalui X.

Ia juga mengatakan Ukraina siap menyepakati gencatan senjata terkait infrastruktur energi jika Rusia setuju menghentikan serangan terhadap sistem energi Ukraina.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov di New York pada Rabu (23/9). Proses negosiasi Rusia-Ukraina sendiri masih mengalami kebuntuan.

Presiden Prancis Emmanuel Macron sebelumnya mengusulkan "moratorium ganda" antara Rusia dan Ukraina, yang mencakup penghentian serangan terhadap infrastruktur energi dan sipil serta penghentian serangan terhadap pengiriman gandum di Laut Hitam.

"Musim dingin akan datang," kata Macron. Ia menyerukan moratorium terhadap serangan energi dan infrastruktur sipil, serta moratorium di Laut Hitam untuk memungkinkan pengiriman gandum kembali berlangsung.

Isu Gaza juga menjadi bagian penting dari rangkaian pidato para pemimpin dunia. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyerukan pengakuan terhadap negara Palestina berdasarkan perbatasan 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.

Sementara itu, krisis iklim tetap menjadi agenda PBB. Antonio Guterres mengecam perusahaan bahan bakar fosil dan mengatakan lima perusahaan minyak besar Barat telah mengantongi hampir US$500 miliar (sekitar Rp8.912 triliun) keuntungan sejak invasi Rusia ke Ukraina, sementara hanya US$34 miliar (sekitar Rp606 triliun) telah diinvestasikan untuk membantu negara berkembang beradaptasi dengan pemanasan global.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Rahka Susanto

Editor: Yuniman Farid

Lihat juga Video: Trump Ancam Hancurkan Iran Jika Tak Ada Kesepakatan

(nvc/nvc)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini