×
Ad

Semakin Banyak Warga Israel Pindah dan Berinvestasi di Siprus

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 22 Sep 2026 14:22 WIB
Komunitas Israel di Siprus terus bertambah, seiring berkembangnya berbagai fasilitas dan layanan yang melayani kebutuhan mereka (Loucianos Lyritsas/DW)
Nikosia -

Situasi yang tidak menentu di Israel serta rasa tidak aman yang berkepanjangan setelah serangan 7 Oktober 2023 dan perang-perang yang menyusul telah mendorong semakin banyak warga Israel melirik Republik Siprus.

Bagi banyak orang, pulau yang letaknya tidak jauh dari Israel itu kini bukan lagi sekadar tujuan liburan dan investasi, tetapi mulai menjadi tempat untuk menetap secara permanen. Bahkan, bagi sebagian orang, Siprus menjadi "Rencana B" jika situasi di Israel semakin memburuk.

Begitulah sejumlah warga Israel yang berbicara kepada DW dengan syarat identitas mereka dirahasiakan menggambarkan keputusan mereka.

"Saya ingin punya Rencana B kalau situasi di Israel semakin sulit," kata seorang warga Israel yang baru-baru ini membeli rumah di sebuah kompleks perumahan besar di distrik Limassol, Siprus.

Warga Israel lainnya menyoroti kedekatan dan kemiripan Siprus dengan negaranya. "Hanya 40 menit naik pesawat, pemandangannya sama, iklimnya sama. Rasanya seperti berada di Israel tanpa benar-benar berada di sana."

Seorang lainnya mengaitkan kepindahannya dengan urusan bisnis. Menurut dia, banyak perusahaan Israel telah memindahkan sebagian kegiatan operasional mereka ke Siprus sehingga lebih mudah menjalankan bisnis dengan negara-negara Uni Eropa.

Rumah pertama dan rumah kedua

Jumlah penduduk Republik Siprus kurang dari satu juta jiwa.

Menurut perkiraan yang dikutip media Israel, sedikitnya 3.000 keluarga Israel kini tinggal secara permanen di Siprus. Jumlah itu bertambah beberapa ratus keluarga setiap tahunnya.

Media Israel juga melaporkan bahwa puluhan ribu warga Israel telah membeli properti di pulau tersebut. Surat kabar Israel Hayom melaporkan sekitar 20.000 warga Israel memiliki properti di Siprus tanpa tinggal di sana sepanjang tahun.

Data dari Kantor Pertanahan Siprus yang disampaikan kepada parlemen menunjukkan bahwa sepanjang 2021 hingga 2024, tercatat total 3.851 transaksi pengalihan kepemilikan dan kontrak penjualan properti yang melibatkan pembeli asal Israel, hanya di tiga distrik pesisir, yakni Larnaca, Paphos, dan Limassol.

Proyek yang didukung investor Israel

Namun, minat warga dan investor Israel terhadap Siprus tidak hanya terbatas pada apartemen dan rumah liburan, tetapi juga mencakup tanah, proyek pariwisata, dan investasi berskala besar.

Salah satu contoh paling menonjol adalah grup perhotelan Israel Fattal. Nilai investasinya di Siprus diperkirakan mencapai ratusan juta euro, termasuk hotel-hotel di Limassol, Paphos, dan Larnaca.

Di Larnaca, investor dengan kepentingan Israel juga berada di balik proyek pembangunan kembali hotel bersejarah Palm Beach, dengan nilai investasi lebih dari €110 juta atau sekitar Rp 2,25 triliun. Selain itu, ada proyek Aqua Residences senilai sekitar €40 juta atau Rp817 miliar, yang mencakup pembangunan dua menara setinggi 15 lantai di tepi laut.

Di distrik Limassol, seorang investor Israel berencana menghidupkan kembali Trozena, sebuah desa yang telah ditinggalkan selama beberapa dekade. Rencananya mencakup pemugaran sekitar 60 rumah serta pembangunan fasilitas pariwisata, area perkemahan, dan kilang anggur.

Proyek yang berada di dalam kawasan lindung Natura 2000 itu memicu penolakan dan penyelidikan oleh otoritas terkait setelah sejumlah pekerjaan dimulai tanpa izin perencanaan dan izin bangunan yang diwajibkan.

Tanda-tanda kehadiran yang semakin permanen

Pada saat yang sama, infrastruktur yang melayani komunitas Israel semakin terlihat.

Tempat ibadah, bisnis, dan layanan yang ditujukan bagi warga Israel, seperti restoran yang menyajikan makanan kosher, telah dibuka di Larnaca, Limassol, dan Paphos.

Iklan berbahasa Ibrani juga dapat terlihat di sepanjang jalan, termasuk materi kampanye politik. Musim panas lalu, papan reklame Partai Yashar pimpinan Gadi Eisenkot yang menyasar pemilih Israel terlihat di sepanjang jalan raya di Siprus.

Salah satu tanda paling jelas bahwa keberadaan komunitas Israel di Siprus semakin bersifat permanen adalah rencana pembangunan sekolah swasta Yahudi di Polemidia, dekat Limassol, dengan kapasitas hingga 1.500 siswa.

Mengingatkan pada masuknya modal Rusia setelah 2013

Semua perkembangan ini semakin memanaskan perdebatan politik mengenai investasi asing dan kepemilikan properti secara umum.

Perdebatan tersebut juga dipengaruhi oleh apa yang disebut para pengkritik sebagai dukungan diplomatik Siprus yang tanpa syarat terhadap Israel, serta pengalaman negara itu sebelumnya ketika menerima arus besar modal Rusia. Arus modal tersebut meningkat setelah Siprus memperluas program kewarganegaraan melalui investasi menyusul krisis keuangan 2013.

Sejumlah kritik politik paling keras datang dari Stefanos Stefanou, Sekretaris Jenderal Partai Progresif Rakyat Pekerja Siprus (AKEL), serta Fidias Panayiotou, anggota Parlemen Eropa dan pemimpin Partai Direct Democracy.

AKEL merupakan partai kiri utama di Siprus dan saat ini berada di kubu oposisi. Stefanou memperingatkan adanya penjualan tanah Siprus kepada warga asing yang tidak terkendali. Ia secara khusus menyinggung pembelian oleh warga Israel dan apa yang ia sebut sebagai munculnya kompleks-kompleks hunian tertutup yang memiliki infrastrukturnya sendiri.

Panayiotou melontarkan kritik yang lebih jauh dengan mengklaim bahwa "Israel sedang membeli Siprus" dan memperingatkan bahwa perekonomian Siprus berisiko menjadi terlalu bergantung pada modal Israel.

Pernyataan tersebut mendapat tanggapan keras dari pihak Israel.

Duta Besar Israel untuk Siprus, Oren Anolik, menolak klaim mengenai pengaruh Israel yang berlebihan. Menurutnya, ribuan warga Israel yang tinggal dan menjalankan bisnis di pulau tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sosial dan ekonomi Siprus.

Ia juga memperingatkan bahwa menjadikan satu kewarganegaraan tertentu sebagai sasaran dan menggunakan stereotip mengenai "kekuatan ekonomi asing" dapat memicu antisemitisme.

Pemerintah berupaya menarik investasi asing

Pemerintah Siprus menjadikan upaya menarik investasi asing sebagai salah satu prioritas utama perekonomian. Presiden Nikos Christodoulides berulang kali menegaskan target untuk menjadikan Siprus sebagai tujuan yang menarik bagi investor internasional.

Terkait investasi Israel secara khusus, pernyataan mantan Menteri Energi dan Perdagangan George Papanastasiou menunjukkan pendekatan pemerintah terhadap isu tersebut.

Saat masih menjabat pada 2025, Papanastasiou mengatakan pemerintah "senang melihat pengusaha Israel hadir di banyak sektor perekonomian Siprus," termasuk pariwisata, teknologi, energi, kesehatan, dan properti.

Perdebatan di parlemen

Perdebatan tersebut kini telah sampai ke parlemen dan meluas menjadi pembahasan mengenai pembelian properti oleh warga negara non-Uni Eropa secara umum.

Para anggota parlemen sedang mempertimbangkan usulan legislasi dari dua partai besar di negara tersebut, yakni AKEL yang berhaluan kiri dan Democratic Rally (DISY) yang berhaluan kanan-tengah. Usulan itu bertujuan membatasi pembelian tanah oleh warga negara non-Uni Eropa.

Salah satu usulan diajukan oleh anggota parlemen DISY, Nikos Georgiou. Kepada DW, ia mengatakan bahwa "dalam beberapa tahun terakhir, pembelian tanah oleh warga negara asing telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya," sehingga mempengaruhi "komposisi demografis, harga tanah dan, dalam beberapa kasus, keamanan nasional."

Georgiou menegaskan bahwa usulannya "tidak ditujukan terhadap negara atau warga negara tertentu." Ia menambahkan bahwa perdebatan mengenai isu tersebut seharusnya berlangsung "tanpa menakut-nakuti masyarakat, tanpa retorika yang diarahkan terhadap warga dari negara ketiga mana pun."

AKEL juga mengajukan usulan legislasi serupa. Kepada DW, anggota parlemen AKEL Giorgos Koukoumas mengatakan partainya mengangkat persoalan pembelian properti secara massal dan tidak terkendali oleh warga negara asing karena hal itu menjadi "salah satu faktor yang mendorong harga properti naik hingga tingkat yang membuat warga Siprus pada umumnya tidak lagi mampu membeli, bahkan menyewa rumah, di pusat-pusat kota negara tersebut."

Ia juga menyinggung kekhawatiran yang menurutnya dirasakan oleh sebagian besar masyarakat Siprus, khususnya terkait pembelian oleh warga Israel.

Menurutnya, kekhawatiran tersebut "jelas berkaitan dengan kenyataan bahwa warga Israel melakukan akuisisi besar-besaran terhadap perusahaan-perusahaan besar dan lahan yang luas, laporan berulang media Israel yang berbicara mengenai pembentukan 'Israel kedua di Siprus,' ditambah dengan kehadiran intelijen Israel di pulau kami serta hubungan dengan Israel di bidang pertahanan dan keamanan yang dalam beberapa tahun terakhir terus didorong oleh pemerintah Siprus."

Laporan ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Rivi Satrianegara

Editor: Yuniman Farid

width="1" height="1" />

Simak juga Video 'Iran Uji Coba Senjata Baru, Siap Dibawa ke Medan Tempur!':




(nvc/nvc)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork