Partainya Kalah di 2 Negara Bagian, Posisi Kanselir Merz Digoyang?

Partainya Kalah di 2 Negara Bagian, Posisi Kanselir Merz Digoyang?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Senin, 21 Sep 2026 17:37 WIB
Kanselir Jerman Friedrich Merz usai jumpa pers hasil pemilu di Berlin dan Mecklenburg-Vorpommern, Minggu (20/9) (Michael Kappeler/dpa/picture alliance)
Kanselir Jerman Friedrich Merz usai jumpa pers hasil pemilu di Berlin dan Mecklenburg-Vorpommern, Minggu (20/9) (Michael Kappeler/dpa/picture alliance)
Berlin -

Berlin dan Mecklenburg-Vorpommern baru saja merampungkan hajatan politik. Dua dari 16 negara bagian dalam sistem federal Jerman yang terdesentralisasi itu telah memilih parlemen baru. Bagi Kanselir Friedrich Merz, hasil pemilu lokal ini menjadi tamparan keras berikutnya di tengah situasi nasional dan internasional yang sedang bergolak hebat.

Di wilayah timur laut, Partai Uni Kristen Demokrat (CDU) pimpinan Merz berada di ujung tanduk. Berdasarkan hitung cepat pada larut malam, partai konservatif itu terancam gagal melewati ambang batas parlemen lima persen—sebuah tragedi sejarah yang bisa mendepak partai dari parlemen negara bagian untuk pertama kalinya.

Sementara di ibu kota Berlin, perolehan suara CDU menyusut drastis, rontok hampir sepertiga hingga terlempar ke bawah angka 20 persen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Friedrich Merz: "Ini adalah Bencana"

Respons cepat datang dari Merz hanya beberapa menit setelah proyeksi awal diumumkan, tepat ketika perolehan suara partainya masih merangkak di atas lima persen. "Hasil di Mecklenburg-Vorpommern tidak bisa kita perindah—ini adalah sebuah bencana," ujarnya getir. Namun, melihat kehancuran partainya di Berlin, ia masih mencoba bertahan dengan menyebutnya sebagai "hasil yang lumayan."

Bagi CDU, ini adalah kekalahan pemilu ketiga dalam kurun waktu dua pekan. Sebelumnya, pada pemilu negara bagian di Saxony-Anhalt tanggal 6 September, CDU sudah tertinggal jauh di belakang Alternatif untuk Jerman (AfD)—partai yang oleh badan intelijen domestik, Verfassungsschutz, diklasifikasikan sebagai sayap kanan ekstremis. Rentetan debut buruk ini membuat Merz, yang menjabat kanselir sejak 2025, tampak sangat terpukul.

ADVERTISEMENT

AfD berlipatganda di Mecklenburg-Vorpommern

Di tingkat pusat, Merz berbagi kekuasaan dengan Partai Sosialdemokrat (SPD) dalam koalisi pemerintahan. Namun, SPD juga melewati malam pemilu dengan perasaan campur aduk. Di Mecklenburg-Vorpommern, SPD yang dipimpin oleh Perdana Menteri petahana Manuela Schwesig sejak 2017, harus puas di posisi kedua dengan raihan sekitar 36 persen. Mereka terjungkal tipis oleh AfD. Partai sayap kanan garis keras itu sukses meraup 38 persen suara, melonjak lebih dari dua kali lipat dibanding pemilu 2021.

Nasib SPD di Berlin jauh lebih tragis. Suara mereka menyusut sepertiga hingga tersisa sekitar 12 persen. Sebaliknya, AfD melesat ke posisi ketiga dengan raihan meyakinkan di atas 16 persen. Kejutan terbesar justru datang dari Partai Kiri (Die Linke) yang meroket menjadi penguasa baru di ibu kota dengan mengantongi 25 persen suara.

Die Linke berhasil meniru peta keberhasilan AfD di Mecklenburg-Vorpommern, dengan melipatgandakan perolehan suara. Peta politik ini membuka peluang bagi kaum sosialis—yang kerap dituding kaum radikal kiri dan antisemit oleh CDU—untuk membangun koalisi Merah-Merah-Hijau bersama SPD dan Partai Hijau.

Berlin berdetak ke kiri

Jika koalisi ini terwujud, kandidat utama Die Linke, Elif Eralp, akan mencetak sejarah sebagai Wali Kota Berlin pertama dari partainya. Sebelum pemilu, politikus keturunan Turki ini sempat membeberkan impiannya dalam wawancara bersama Deutsche Welle (DW). "Visi saya untuk Berlin adalah sebuah kota yang terjangkau. Tempat di mana semua orang, tanpa memandang asal-usul, agama, bahasa, maupun pendapatan, dapat hidup dengan baik dan terhormat."

"Peluang koalisi Merah-Merah-Hijau juga terbuka di Mecklenburg-Vorpommern berdasarkan hitung cepat, namun kali ini di bawah komando SPD. Manuela Schwesig menyatakan kesiapannya untuk membentuk "pemerintahan demokratis yang stabil." Di sisi lain, Ketua Umum Federal AfD, Alice Weidel, langsung mendeklarasikan runtuhnya "tembok api" —kebijakan isolasi politik yang dibangun CDU untuk membendung partai ekstrem.

Kepada saluran televisi ZDF, Weidel menegaskan arah partainya, "Target kami tentu saja adalah membangun pembicaraan koalisi jangka panjang dengan CDU."

Arus pinggir gilas pusat kekuasaan

Hasil di kedua negara bagian ini menjadi refleksi nyata dari meluasnya ketidakpuasan publik terhadap Kanselir Merz dan koalisi pemerintahannya bersama SPD. Deutschlandtrend, barometer jajak pendapat berkala, menunjukkan bahwa aliansi pemerintahan Merz telah kehilangan mayoritas suara di tingkat nasional. AfD kokoh berada di puncak popularitas, sementara SPD kini hanya unggul tipis di atas Die Linke.

Partai-partai di lingkaran luar spektrum politik kini mendapat panggung dan dukungan yang jauh lebih besar baik di tingkat federal maupun negara bagian, mengungguli partai pemerintah yang terus-menerus didera konflik internal. Sumbu perselisihan ini sering kali dipicu oleh ofensif reformasi yang digagas Kanselir Merz beberapa bulan lalu. Kebijakan ini diambil demi menjinakkan lonjakan biaya masif pada asuransi kesehatan, asuransi perawatan, dan dana pensiun.

"Reformasi harus berjalan"

Kendati dihantam kekalahan pemilu bertubi-tubi, Merz menolak kendur dan berkukuh pada jalur politiknya. "Reformasi harus tetap berjalan. Tentu saja ini menempatkan kita semua dalam situasi yang sulit. Namun, kami mengambil tanggung jawab ini. Saya mengambil tanggung jawab ini."

Pada sektor reformasi kesehatan, koalisi pemerintahan sebenarnya telah mencapai kesepakatan setelah perdebatan yang melelahkan. Implikasinya, hidup warga Jerman bakal makin mahal: harga obat-obatan dan biaya perawatan gigi melonjak, ditambah lagi pembatasan pada skema asuransi keluarga. Langkah-langkah tidak populer ini dinilai telah gagal merebut simpati publik.

Situasinya setali tiga uang dengan reformasi asuransi pensiun yang hingga kini masih diperdebatkan, di mana pemerintah mendorong masyarakat untuk memperkuat dana pensiun melalui investasi swasta.

"Saya ingin negara ini maju"

Merz tidak menampik bahwa gelombang perubahan ini membawa beban berat dan ketidakpastian baru bagi banyak orang. Namun, ia tetap menunjukkan rasa optimisnya. "Saya ingin membawa negara kita maju. Saya percaya penuh bahwa keberhasilan reformasi ini tidak hanya akan memperbaiki kehidupan bersama kita, tetapi juga memulihkan citra diri kita serta reputasi kita di mata dunia.

"Di panggung internasional, posisi Merz dan pemerintahannya kian terpojok oleh hasil pemilu di Berlin dan Mecklenburg-Vorpommern. AfD, yang memiliki basis massa sangat kuat di wilayah Jerman Timur, secara vokal menentang dukungan militer untuk Ukraina dalam menghadapi agresi Rusia yang melanggar hukum internasional.

Sengkarut politik dalam dan luar negeri ini jelas mempersulit ruang gerak koalisi, dan Merz sangat menyadari hal itu. Menarik pelajaran dari kekalahan telak CDU dan mitra koalisinya, SPD, dia menegaskan sikapnya: "Apa yang harus dilakukan sekarang membutuhkan ketabahan, keteguhan, dan kesabaran. Saya akan menunjukkan hal itu. Sebagai Ketua Umum CDU dan terutama sebagai Kanselir dari negara kita."

Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Rizki Nugraha

Editor: Yuniman Farid

Lihat juga Video: Friedrich Merz Terpilih Jadi Kanselir Jerman

(nvc/nvc)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini