×
Ad

Saling Serang AS-Iran, Rudal Iran Mengarah ke Yordania

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 09 Sep 2026 17:43 WIB
Jakarta -

Militer Amerika Serikat (AS) mengklaim menghancurkan lima kapal tanker minyak mentah Iran setelah Garda Revolusi Iran melancarkan dua serangan rudal balistik terhadap kapal perang AS dalam dua hari terakhir. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut awak kelima kapal telah diperintahkan meninggalkan kapal sebelum serangan dilakukan.

Empat kapal, Kivik, Charminar, Horizon 1 dan Riesco, dihancurkan di Teluk Oman, sedangkan kapal Derya diserang di dekat Pulau Kharg, Selat Hormuz. Menurut CENTCOM, serangan tersebut merupakan respons atas upaya Iran menyerang kapal perang AS.

Setelah serangan AS, media pemerintah Iran melaporkan peluncuran rudal Iran terhadap sasaran AS di Yordania. Namun, CENTCOM mengatakan tidak memiliki informasi yang dapat diberikan mengenai serangan di pangkalan udara Yordania.

Eskalasi ini menjadi bagian dari aksi saling serang antara Washington dan Teheran. Tiga hari sebelumnya, pasukan AS juga menghancurkan tiga kapal tanker minyak Iran setelah Garda Revolusi Iran disebut berusaha menyerang sebuah kapal induk dan kapal perusak AS.

Di tengah eskalasi militer, pemerintahan Presiden Donald Trump memperluas tekanan ekonomi terhadap Iran dengan menjatuhkan sanksi terhadap lebih dari dua lusin maskapai komersial dan swasta serta penyedia jasa kargo asing.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan pihak yang masih berbisnis dengan maskapai Iran. "Ini menjadi peringatan bagi siapa pun yang berbisnis dengan maskapai Iran yang tersisa: Anda berisiko dikeluarkan dari sistem keuangan global," kata Bessent.

AS dan Iran juga berupaya mengendalikan Selat Hormuz, jalur yang sebelum perang dilalui sekitar seperlima minyak dunia. Blokade AS terhadap pelabuhan Iran telah membatasi ekspor minyak dan menekan perekonomian negara tersebut.

Dampak konflik turut terasa di pasar energi. Harga minyak mentah Brent sempat mencapai 99,46 dolar AS per barel pada Selasa (8/9). Kenaikan harga energi tersebut menjadi persoalan politik bagi Trump dan Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu November.

Houthi dan milisi Irak perluas serangan

Konflik juga meluas melalui kelompok-kelompok yang didukung Iran di kawasan. Pejabat regional mengatakan kepada Associated Press (AP) bahwa kelompok Houthi di Yaman membantu milisi Irak merencanakan dan melaksanakan serangan drone selama dua hari terhadap Arab Saudi.

Keterlibatan Houthi tersebut dikonfirmasi dua pejabat Saudi berdasarkan informasi intelijen dan seorang pejabat senior keamanan Irak. Merek a mengatakan utusan Houthi bekerja di sebuah ruang operasi yang dijalankan milisi Irak.

Menurut para pejabat tersebut, Arab Saudi dan AS kemudian melancarkan serangan udara gabungan yang menewaskan sedikitnya 20 anggota milisi Irak, enam penasihat Iran dan sedikitnya satu pejabat Houthi. Seorang pejabat Houthi dan anggota milisi Irak mengonfirmasi kematian pejabat Houthi tersebut.

Namun, dua pejabat Pasukan Mobilisasi Populer (PMF), kelompok payung milisi yang secara resmi merupakan bagian dari pasukan keamanan Irak, membantah keterlibatan dalam serangan terhadap Arab Saudi. Mereka juga membantah bahwa Houthi beroperasi di bawah naungan PMF.

AP melaporkan para pejabat dan anggota milisi tersebut berbicara secara anonim karena tidak berwenang memberikan pernyataan kepada media. Houthi tidak menanggapi permintaan komentar.

Koordinasi antara milisi Irak dan Houthi disebut meningkat selama perang di Gaza. Menurut pejabat Houthi dan regional, kedua kelompok sebelumnya telah berkoordinasi dalam serangan terhadap Israel.

"Strategi Iran dalam perang saat ini bersifat hibrida. Kami tidak berperang di satu front dan kami tidak menggunakan satu alat," kata Mahdi Mohammadi, penasihat ketua parlemen Iran, dalam unggahan media sosial pada Juni.

Serangan Saudi ancam jalur minyak

Tekanan terhadap Arab Saudi meningkat setelah Houthi mendeklarasikan blokade pelayaran Saudi di Laut Merah. Menurut ACLED, sejak akhir Juli Houthi telah melancarkan lebih dari selusin serangan terhadap fasilitas minyak dan kapal tanker Saudi.

Pada Selasa (8/9), serangkaian serangan menghantam fasilitas minyak dan sejumlah fasilitas lain di selatan Arab Saudi. Otoritas Saudi mengatakan lebih dari 70 orang terluka, termasuk perempuan dan anak-anak.

Menurut ACLED, Saudi kemudian menerapkan kebijakan transit "gelap", termasuk mematikan sinyal pelacakan kapal tanker minyak di Laut Merah.

Setelah Selat Hormuz tertutup akibat konflik dengan Iran, Saudi mengalihkan sebagian besar minyaknya ke Laut Merah. Namun, serangan Houthi mendorong pengiriman lebih banyak minyak ke utara melalui Terusan Suez dan pipa SUMED di Mesir. Menurut Kpler, aliran melalui jalur tersebut meningkat dari 650.000 barel per hari pada Juni menjadi lebih dari 1,9 juta barel per hari pada Agustus.

"Kereta menuju kembalinya perang skala penuh sudah meninggalkan stasiun, dan tidak jelas apakah ada yang akan turun tangan untuk menghentikannya," kata Adam Baron, pakar Yaman dari New America.

Sementara itu, Elisabeth Kendall dari Girton College, University of Cambridge, mengatakan eskalasi dapat memaksa Saudi bertindak langsung terhadap Houthi dan memberi kelompok tersebut peluang memperluas kendali atas wilayah timur Yaman yang kaya energi.

Editor: Rizki Nugraha

Tonton juga video "Iran Balas Serangan AS, Kapal Induk & Kapal Perusak Jadi Sasaran"

width="1" height="1" />




(ita/ita)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork