Kantor Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu pada Selasa (08/09) membantah laporan surat kabar Israel berhaluan kiri, Haaretz, yang menyebut ia menerima peringatan dari Uni Emirat Arab (UEA) sebelum serangan teror Hamas pada 7 Oktober 2023.
"Tidak ada peringatan yang diberikan kepada Perdana Menteri dari Uni Emirat Arab sebelum 7 Oktober," kata kantor Netanyahu dalam sebuah pernyataan.
Isi laporan
Haaretz, dalam laporan yang didasarkan pada kutipan buku karya dua jurnalis surat kabar tersebut, menyebut Presiden UEA Mohammad bin Zayed berbicara dengan Netanyahu 10 hari sebelum serangan. Dalam percakapan itu, bin Zayed mengatakan Hamas dan pemimpinnya saat itu, Yahya Sinwar, sedang merencanakan operasi besar yang menarget Israel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kementerian Luar Negeri UEA sementara itu tidak secara eksplisit mengonfirmasi laporan tersebut, tetapi menyatakan: "bila diperlukan, semua informasi intelijen yang relevan telah dan terus dikomunikasikan antara entitas-entitas terkait." UEA menormalisasi hubungan dengan Israel pada 2021 sebagai bagian dari Abraham Accords.
Menurut Haaretz, bin Zayed memberitahu Netanyahu bahwa operasi Hamas bisa mengganggu kawasan Timur Tengah dan melemahkan Abraham Accords. Sebelum 7 Oktober, ada tanda-tanda bahwa Arab Saudi dan Israel bisa segera memformalkan hubungan.
Dalam percakapan dengan bin Zayed, Netanyahu merespons peringatan Presiden UEA itu dengan "ketenangan yang relatif." Netanyahu mengatakan Israel sudah siap menghadapi segala skenario dan bahwa serangan lebih mungkin datang dari Tepi Barat.
Laporan Haaretz ini juga dikonfirmasi oleh The Times of Israel (TOI) pada Selasa (08/09), dengan TOI mengutip sumber Emirat yang menyebut bin Zayed memang memperingatkan Netanyahu tentang serangan Hamas.
Artikel Haaretz ini muncul setelah surat kabar Israel berhaluan tengah, Yedioth Ahronoth, melaporkan tahun lalu bahwa pejabat intelijen Mesir telah memperingatkan Israel bahwa "sesuatu yang besar akan terjadi" tak lama sebelum pembantaian 7 Oktober.
Serangan teror Hamas pada 7 Oktober menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel, dengan kelompok itu juga menyandera 251 orang lainnya ke Gaza. Itu adalah hari paling mematikan bagi warga Yahudi sejak Holocaust.
Netanyahu dikritik rival politik jelang pemilu
Laporan terbaru bahwa Netanyahu menerima pemberitahuan awal tentang operasi besar Hamas muncul menjelang pemilu Israel bulan depan.
Mantan kepala militer Gadi Eisenkot, yang partai Yashar-nya yang berhaluan tengah kerap unggul atas Likud pimpinan Netanyahu dalam berbagai jajak pendapat, mengatakan: "Semakin banyak tanda yang menunjukkan bahwa Netanyahu secara membabi buta membawa Israel menuju bencana 7 Oktober."
Eisenkot mendorong pembentukan komisi penyelidikan negara resmi atas serangan 7 Oktober, sebuah gagasan yang ditolak Netanyahu.
Naftali Bennett, penentang Netanyahu lainnya yang maju dalam pemilu dan sebelumnya menjabat sebagai perdana menteri, mengatakan: "Netanyahu menanggung tanggung jawab pribadi dan langsung atas kegagalan yang menyebabkan kematian ribuan warga Israel di masa jabatannya."
Yair Golan, ketua partai Demokrat berhaluan tengah-kiri, mengunggah pesan di X kepada Netanyahu: "Anda tahu, Anda mengabaikannya, Anda gagal, Anda yang harus disalahkan."
Dampak luas serangan 7 Oktober
Serangan pada 7 Oktober 2023 berdampak besar bukan hanya bagi masyarakat Israel, tetapi juga bagi warga Palestina di Gaza, yang saat itu berada di bawah kendali Hamas.
Menyusul serangan Hamas, militer Israel memulai perang yang menarget Hamas di Gaza. Serangan itu menewaskan lebih dari 73.650 warga Palestina di Gaza, menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas. Komisi Penyelidikan PBB tahun lalu menemukan bahwa Israel melakukan genosida terhadap warga Palestina di Gaza.
Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Fika Ramadhani
Editor: Muhammad Hanafi
Simak juga Video 'Netanyahu Klaim Kuasai 60% Wilayah Gaza: Kami Terus Bergerak Maju':
(ita/ita)









































